Sea Quill Blog Contest

Seoconia - Acer Iconia SEO Contest
Internet Sehat
Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Event. Tampilkan semua postingan

Let Jazzin' the Town!

The invitation


Hi, All jazz lovers! Do you still remember about the togetherness which is usually presented in Jazzin’ Lebaran? In this year, a familiar jazz community in Solo city, Solo Jazz Society proudly presents Jazzin’ Lebaran #5. It is a jazz event held in the fifth year after its success in every year. Its presence is always waited. Moreover, this event is presented in the Holy sensation of Ied Fitri, an Islamic Feast Day when every family member is grouped together in the joy of togetherness.
Don’t miss this entertaining performance which is presented special for you. Come and join Jazzin’ Lebaran #5 in Thursday, August 15th 2013 on Balai Sudjatmoko, Gramedia Bookstore Complex, Slamet Riyadi Street, Solo – Central Java, Indonesia. This event will be held early. It will be started from 3 P.M until night. Invite your big family to meet together while enjoying jazz songs both standards or modern. Indeed, that day will be so jazz! This event will be celebrated by the members of Solo Jazz Society and other cities’ performers such as Donny Koeswinarno, Gondo Trio, Jogja and Semarang Jazz Community.

Javanese Meets French in Kavallerie Artillerie


               What do you think about Java? Batik, Sociability or colonialized people? They must be related to this place. Java is always well-known as one of origin Indonesian cultures. Javanese culture is now more recognized by world. Javanese culture has gotten place as a part of world’s cultural wealth.
            Although Java was colonialized by Dutch for 3,5 centuries and Japanese 3,5 years. There is Mangkunegara Legion (Legiun Mangkunegara) which was developed by Mangkunegara Kingdom in Surakarta city, Central Java, Indonesia. The legion was established by the King Mangkunegara II. Mangkunegara Legion was inspired by Napoleon’s Grande Armee. Napoleon admitted the legion from its tactics and contribution. The legion had supported many battle fields such as Napoleon’s War in Asia as a part of French-Dutch army fought Britain-Sepoy in India (1811), Army operation in East Indies and Pacific War (1942). Napoleon had sent many letters and visitations. One of Napoleon’s gifts can be watched in Radya Pustaka Museum.


Picture 1.1 Mangkunegara Legion

            The French inspirations are proved in the architecture of Kavallerie Artillerie (the legion’s headquarter) and the legion’s divisions. In 1808 when the legion was leaded by Ario Praboe Prang Wedana as the colonel of official duty with Lodewijk Napoleon (Bonaparte’s relative), Mangkunegara Legion had 1.150 troops which were divided into 800 infantries (Fusilier), 100 invaders (Jagers), 200 cavalries and 50 artilleries. 


Picture 1.2 Kavallerie Artillerie Building

            The legion is known as the first army in Indonesia. The costumes were also influenced from French with Javanese symbols. They wore black coat, white trousers and military hat. They combined with blangkon (Javanese hat). 
            Those collaborations between French and Javanese were the efforts which were made by Mangkunegara in order to introduce the kingdom and to appreciate western military development without forgetting Javanese elements as their identity.
            After Japanese involvement in Indonesia, the legion was closed. The legion’s members and their offspring have contributed themselves in Indonesian National Army (Tentara Nasional Indonesia). Kavallerie Artillerie as the historical building owned by Mangkunegara legion still stands in front of Mangkunegara Palace which faces to the palace’s field. 


The photos are taken from Angelina Kusuma's blog and Kompasiana Sejarah
See also: The writer's page on Kompasiana

Pementasan Drama Bahasa Inggris di IAIN Surakarta (PRESS RELEASE)


PRESS RELEASE

            Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta kembali menghadirkan pementasan drama berbahasa Inggris. Ini adalah pementasan keenam kalinya diselenggarakan di kampus ini. Pementasan drama berbahasa Inggris ini berjudul “Make Up Make Down & To Sell Celebrities” yang akan dipentaskan di Gedung Pasca Sarjana lantai 4 IAIN Surakarta pada hari Kamis, tanggal 7 Juni 2012 dimulai pukul 19.30 WIB.
            Pementasan drama ini adalah bentuk kreatifitas mahasiswa dari program studi Sastra Inggris semester enam dalam meng-aplikasikan  mata kuliah drama 2 yang telah mereka ambil untuk dipertunjukkan bagi umum. Mereka mengatur semuanya sendiri dari panggung, property, publikasi hingga akting.
            Tema yang mereka ambil kali ini mengangkat fenomena sosial yang terjadi di masyarakat kita. Drama ini menjadi lebih menarik karena mereka dengan kreatif menggabungkan dua judul yang berbeda menjadi satu jalan cerita yang bersambung dan logis. Terdapat dua sutradara pada drama ini untuk mengatur akting dari “Make Up Make Down” dan “To Sell Celebrities”. Dan mereka berhasil untuk menggabungkannya.
            “Make Up Make Down” menceritakan tentang seorang tokoh yang telah menikah – Lucille,  memiliki perhatian yang lebih pada sesuatu yang menjadi hal terpenting bagi kaum hawa yaitu kecantikan. Salah satu yang paling awal terpikirkan adalah cara untuk membuatnya tampil cantik, yaitu dengan make up. Ternyata pada kenyataannya, penggunaan make up tidak membuatnya percaya diri dan puas. Tetapi justru membuatnya semakin kurang dan kehilangan dirinya. Inilah yang membuatnya menjadi tokoh yang kurang bersyukur terhadap apa yang telah dimilikinya. Hal ini menjadi tugas yang berat bagi suaminya – Lloyd, dalam menghadapi sikap istrinya.
            Cerita ini berlanjut ke “To Sell Celebrities” yang mengisahkan dua aktor yang akan tampil. Drama ini juga merupakan kritik sosial yang terjadi saat ini, dimana seorang artis menjadi benda yang dijual dan diperdagangkan. Bukan dari seni yang disuguhkan kepada pemirsanya. Artis menjadi seorang yang selalu diharuskan tampil sempurna, khususnya dalam hal penampilan. Disisi lain, mereka tidak hanya menjual penampilan tetapi juga popularitas. Bukan menjadi hal yang tidak mungkin jika dua aktor sama-sama saling bersaing padahal mereka bisa menjadi partner yang baik untuk menghasilkan karya yang terbaik.

Drama untuk belajar Bahasa Inggris
            Pementasan drama ini diharapkan tidak hanya menjadi sekedar pertunjukan seni saja. Tetapi juga menjadi media pembelajaran dalam berbahasa Inggris. Ada banyak cara digunakan orang-orang untuk belajar bahasa Inggris, salah satunya adalah dalam penampilan drama. Ketika menyaksikan pementasan drama bahasa Inggris, kita tidak hanya mengetahui kosa kata, tetapi juga ekspresi dan praktiknya secara nyata dalam gerakan-gerakannya.

                                                                   Vilya Lakstian C.M
                                                                             Humas

Games Bazar for Learning English

English Letters Students of IAIN Surakarta proudly present Game Bazar @ Fairy Sale Bazar
December 27th - 31st 2011 in Graha IAIN Surakarta at 9 A.M 'till 9 P.M.
Meet the game products and play them all!
Be there ! :D

Solo Bermusik Jazz

            Lebaran di Kota Solo lebih berwarna dengan hadirnya pentas musik jazz “Jazzin’ Lebaran #3” (3/9). Event ini adalah kali ketiga yang diselanggarakan oleh komunitas musik Solo Jazz Society, sebuah wadah berkumpulnya musisi-musisi dan penikmat musik yang berkembang dari New Orleans, Amerika Serikat di awal abad 20 ini, diadakan setiap tahun.
            Event Jazzin’ Lebaran #3 tahun ini bertempat di Balai Sudjatmoko, Kompleks Toko Buku Gramedia Jalan Slamet Riyadi, yang merupakan Bentara Budaya Solo. Terdapat 9 band performer yang tampil di acara ini. Mereka kebanyakan adalah musisi muda. Ini menghapus pandangan bahwa musik jazz hanya untuk orang tua. Nyatanya ada banyak musisi jazz yang berusia SMA bahkan ada yang masih Sekolah Dasar dan mampu membawakan lagu jazz dengan aksen jazz yang jelas terasa.

Penampilan Jazz'elicious,  salah satu band di acara Jazzin' Lebaran #3 di Balai Sudjatmoko Solo (3/9)
            Ada banyak sub-genre yang dibawakan oleh performer-performer pentas jazz ini. Seperti band Jazz’elicious yang membawakan komposisi irama Latin dan Fussion dalam lagu ‘Simple’ dan ‘Rio Funk’ dengan cabikan bass yang dominan. Dan Cati Quartet menampilkan lagu-lagu dengan nuansa Jazz Swing yang apik. Ada juga band dari Jakarta- Condet Quartet yang membawakan lagu-lagu jazz dengan campuran modern tanpa menghilangkan unsure asli dari sub-genre dari musik mereka.
            Event ini diadakan juga sebagai sarana berkumpulnya musisi-musisi jazz solo yang tinggal di luar kota saat mereka pulang kampung. Bahkan ada kumpulan reuni yang mengagendakan hadir di acara ini. Seperti yang dilakukan oleh Reuni Alumni SMA Al-Islam 1 Solo angkatan ’87 yang duduk lesehan di sisi kiri panggung.
(Vilya Lakstian)

Pentas Jazz Lebaran


Jazzin' Lebaran #3
Hari     : Sabtu, 3 September 2011
Jam      : 19.00 WIB - end
Tempat : Balai Sudjatmoko, Kompleks TB Gramedia Jalan Slamet Riyadi Solo

Event Jazz tahunan dari komunitas musik Jazz Solo - SoloJazzSociety yang ke tiga kali nya ini diselenggaran juga sebagai ajang berkumpulnya musisi2 jazz yang sedang pulang kampung sekaligus pertunjukan seni musik. Mari bergabung dalam event "Jazzin' Lebaran #3" dan acara ini GRATIS!



 Workshop "History of Jazz" sebagai Pre-Event Jazzin' Lebaran #3 di Balai Sudjatmoko, Surakarta (26/8)
Category: , , , 0 comments

Vill's & the Good Mood is Playing Beautiful Love

This video has been captured by Novi in the Casual Jazz Event, Surakarta, Indonesia. They are playing Beautiful Love arranged by Victor Young. The music players are Vilya (Bass), Aditya (keyboard), Wika (Drum), Daniel (Guitar).
Check this out!
Thanks




Harry Potter And The Deathly Hallows - Part 1: Original Motion Picture SoundtrackBlackberry Playbook 7-Inch Tablet (16GB)

Parade Drama Bahasa Inggris di IAIN Surakarta

Selesailah sudah acara yang bisa kita sebut sebagai Parade Drama Bahasa Inggris yang dilaksanakan selama seminggu di kampus Institut Agama Islam Negeri ( IAIN ) Surakarta yang dilaksanakan sejak tanggal 18-25 Juni 2011 bertempat di Auditorium Gedung Paska Sarjana Lantai 4. Acara ini sebetulnya adalah ujian mata kuliah Drama yang diperoleh mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra baik itu program studi Sastra Inggris (SI) ataupun Pendidikan Bahasa Inggris (PBI). Meskipun ini adalah ujian tetapi pentas Drama ini terbuka untuk umum yang turut menambah membangkitkan percaya diri mahasiswa untuk mengaplikasikan kemampuan bahasa Inggris mereka didepan umum.

Mereka dituntut untuk kreatif dalam menentukan action, kostum, property, penjualan tiket hingga promo. Penampilan pertama adalah hasil kreasi dari mahasiswa Sastra Inggris semester 6 yang mengambil mata kuliah drama professional-Drama 2 yang merupakan lanjutan dari Drama 1, khusus untuk program studi Sastra Inggris. Mereka menampilkan drama “Dante & Mercedes“ yang ber-setting di era jaman Napoleon. Drama mereka sangat menarik dengan menampilkan adegan-adegan perang hingga komedi yang membuat penonton tidak akan berhenti tertawa. Drama professional ini dipertunjukkan dengan durasi 180 menit.

Dan untuk mahasiswa SI dan PBI semester 4 mereka mendapatkan drama “Robin & Marian-Tales of Whispering Faith”. Dosen mata kuliah drama, Bapak Luthfie Arguby, membagi setiap kelas dengan setting drama yang berbeda-beda. Yaitu Modern (era 1920an), Jepang, Jawa, Cina, Renaisans dan Romawi. Sungguh sangat menarik karena akan tampak berbeda dan membangun kreatifitas mahasiswa dalam menampilkan drama sesuai dengan jaman dan wilayah yang digunakan dimana kostum dan perlengkapan akan jauh berbeda..
Pasti anda sering melihat film Robinhood dengan property pedang. Tetapi pernahkah anda melihat Robinhood dan kawan-kawan bertarung dengan pistol dan senjata laras panjang? Yap! Belum pernah ditampilkan di film. Kita dapat melihat suara tembak-tembakan di pertunjukan drama Robin & Marian versi Modern yang bersetting pada sekitar tahun 1920an yang saat itu lagi nge-trend budaya berpakaian dengan jas dan topi mafia. Pertunjukan ini ditampilkan pada hari Senin, 20 Juni 2011. Saya dan teman-teman dari program studi Sastra Inggris (SI) berhasil menampilkan atmosphere era 1920 hasil kreasi sutradara kami – Afinawan bersama pemain, divisi kostum, property hingga efek suara dan teman-teman dari Teater Sirat IAIN Surakarta yang menambah nuansa mafia yang menegangkan.

Pada scene 1, drama diawali saat Robin dan Marian saling menodongkan pistol . Robin yang mencintai Marian mencoba untuk menenangkan situasi karena Marian adalah seorang sheriff yang akan setia membela negerinya yang membuat mereka tidak bisa bersatu adalah karena Robin adalah The King of Thief, pencuri terkenal yang mengetuai gang Merry Men dari kota Sherwood yang sering berurusan dengan Raja John untuk mendapatkan hartanya dan membagikannya pada orang miskin. Drama ini berlanjut hingga Robin di adu domba pada teman lamanya, Schwann dari gang Nothingham Birdies. Raja John menggunakan seorang pria bertopeng untuk melancarkan aksinya.

Di akhir cerita, setelah bertarung dengan Schwann dan Raja John, Robin yang kemudian bertemu dengan Marian akhirnya mampu bersatu melawan pria bertopeng ini. Dan mereka terkejut karena pria ini – Turdus, selain anak buah John, dia adalah anak buah Robin, dia juga pengikut Raja Richard – kakak John, dalam Perang Salib. Ini terjadi setelah Turdus, pria yang asing oleh Robin, membuka topeng saat dia sekarat. Robin dan Marian kemudian mengenalnya sebagai Gaspard, kawan mereka. Gaspard pun meminta maaf dan meminta Robin dan Marian bersatu kembali sebelum dia meninggal dengan menyatukan kedua tangan mereka diatas dada Gaspard.

Setelah pertunjukan berakhir, penonton yang memenuhi auditorium terlihat begitu senang dan puas. Selain kisah romantis Robin dan Marian, tembak-tembakan pistol dan laras panjang, hingga perkelahian dengan tangan kosong, mereka juga mendapatkan lawakan-lawakan segar dari tokoh Ashley yang mengaku sebagai Robinhood dan gagal dalam merampok wanita hingga orang tua, ditemani oleh temannya, Wilfred. (Vilya Lakstian)

Berpetualang Sejarah Penyiaran Indonesia


Dengan diperingatinya Hari Penyiaran, Monumen Pers mengadakan Pameran Penyiaran pada tanggal 31 Maret-9 April 2010. Monumen Pers yang terletak di Jalan Gajah Mada 59 Surakarta ini sekarang menjadi Monumen Pers Nasional. Awalnya gedung ini bernama Gedung Societeit Sasono Suko, di gedung ini Ir Sarsito Mangunkusumo mendirikan Solosche Radio Vereeniging (SRV) yaitu radio pribumi pertama. Gedung ini juga dijadikan sebagai tempat berlangsungnya Konggres Wartawan Indonesia pada 9 Februari 1946.
Saat memasuki pameran, kita akan menyaksikan berbagai dokumen terbit media. Tidak hanya artikel tetapi ada gambar nya juga. Ini adalah hal yang menarik. Selain melihat, kita juga dapat membaca dimana didalam artikel wartawan tersebut mampu menuliskan tulisan-tulisan yang menarik. Tentu ini akan memberikan kelebihan terhadap pendidikan masyarakat sambil berpetualang mengarungi sejarah bangsa. Setelah mengisi kehadiran, didepan ada sebuah Pemancar “Radio Kambing” (lihat gambar disamping). Hal inilah juga yang membuat saya merasa wajib untuk datang ke pameran setelah membaca sebuah koran yang menuliskan sedikit review pameran ini. Ternyata, mengapa disebut Pemancar “Radio Kambing”? Karena pemancar radio ini pernah disimpan pejuang RRI dan TNI di kandang kambing untuk mengelabui tentara Belanda saat terjadi Clash II tahun 1948-1949 di Desa Balong, Lereng Gunung Lawu karena RRI Surakarta diserang Belanda. Pemancar ini juga dipakai oleh SRV untuk menyiarkan langsung musik gamelan Solo-Belanda, mengiringi Gusti Nurul (Putri Sri Mangkunegoro VII) membawakan tari Bedhaya Srimpi di Istana Kerajaan Belanda, Den Haag tanggal 7 Januari 1937.

Radio dan Studio
Ruangan yang luas dan penerangan yang baik memberikan nuansa museum yang apik. Kursi ditengah-tengah ruangan dapat dimanfaatkan pengunjung untuk beristirahat sejenak sambil membaca leaflet museum. Lalu ada sebuah foto Adolf Hitler saat berpidato pertama kali didepan sebuah mikrofon pada tahun 1933. Seseorang yang kemudian akan mengubah negerinya.
Kemudian artikel dan foto Bintang Radio. Di masa saat radio menjadi salah satu media hiburan, kemudian diadakan kompetisi Bintang Radio yang diikuti para pemuda dan pemudi. Seperti Abang-None, sebagai generasi bangsa yang akan meneruskan perjuangan, mereka juga memberikan ide-ide untuk kemajuan bangsa dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang ada didalam masyarakat.
Terdapat artikel-artikel yang menunjukkan kemajuan Indonesia dibidang penyiaran seperti dalam artikel “Indonesia Bikin Piring Hitam” yaitu media penyimpanan yang seperti Compact Disc (CD) dan “Radio Pantji (Radio Panci) yang bentuknya bulat seperti panci .
Diujung terdapat studio mini RRI, dimana mereka juga melakukan siaran langsung dari studio disitu. Begitu juga, disampingnya terdapat berbagai radio antik dari yang bentuknya besar-besar hampir seukuran lemari dan radio kotak-kotak yang dipakai para tentara saat terjadinya perang dunia kedua ( PD II ). Ditampilkan sebuah kompas antik yang digunakan seorang jendral yang bentuknya hampir seperti radio disekitarnya. Studio dan radio antik ini menambah kesan dan nuansa pameran penyiaran. Memberikan gambaran kepada pengunjung tentang kegiatan penyiaran di studio dan radio sebagai output dari hasil siaran di studio.

Musik bagian dari penyiaran
Museum musik Kamsidi menampilkan beberapa alat musik antik, artikel dan foto-foto musisi senior. Musik memang menjadi bagian dalam penyiaran karena output nya mampu didengar, dapat disiarkan dan diterima oleh seluruh penikmat media penyiaran. Beberapa alat musik seperti flute and saxophone dipajang bersama foto-foto seorang musisi Solo bersama band nya yang bernama Cauman Band, menunjuk pada suatu daerah di Solo, Kauman. Band ini mungkin hampir menuju bigband atau orkes karena pemainnya yang jumlahnya banyak. Disebelahnya terdapat 3 musisi yang salah satunya adalah orang belanda yang ikut mengaransemen lagu Indonesia Raya. Sangat mengharukan dan bahagianya saya, sebagai seorang musisi, melihat para pendahulu dan senior dimana saat itu adalah masa yang sulit karena masih dalam keadaan terjajah, selain berpolitik mereka juga mampu mengembangkan dan mengapresiasikan kesenian seperti musik.
Diakhir perjalanan, 5 orang penting dari Solosche Radio Vereeniging (SRV) menutup perjalanan saya. Salah satunya adalah Mangkunegoro VII yang dijuluki juga sebagai Bapak Penyiaran Indonesia, dengan biografi beliau dan 4 orang penting SRV lainnya.
Pameran pers ini banyak memberikan ilmu kepada saya tentang penyiaran di Indonesia, bagaimana mereka berjuang dengan penyiaran dan radio yang saat itu menjadi gaya hidup masyarakat.

( Lakstian )
Category: 1 comments

Earth Hour Kembali di 2010


Kepedulian kepada Bumi yang dilakukan dengan mematikan lampu selama 60 menit ini akan dilakukan untuk kedua kalinya. Setelah sukses dengan Earth Hour (EH) 2009, pada minggu ini tepatnya hari Sabtu, 27 Maret 2010 pada jam 20.30-21.30, EH akan dilakukan serentak di seluruh dunia. Kegiatan ini guna untuk menyelamatkan Bumi dari karbon yang dihasilkan dari pembakaran, khususnya pada pembangkit listrik. Dengan EH ini diharapkan mampu mengurangi karbon di udara yang berakibat pada efek rumah kaca, sekaligus menghemat energi.
Penelitian mengatakan bahwa mematikan elektronik jika masih dalam keadaan stand-by, mereka akan tetap mengonsumsi 20% dari pemakaian normal. Jadi, matikan jika sudah tidak diperlukan!

Dampak dari efek rumah kaca ini begitu besar, yaitu menyebabkan perubahan iklim, suhu yang tidak stabil dan kemudian berujung pada pemanasan global (global warming) yang memicu melelehnya es di daerah kutub. Hal ini akan membuat naiknya ketinggian air laut. Pulau-pulau kecil yang berada di tengah-tengah samudera akan terancam.


Partisipasi
Tidak hanya orang tua, anak-anak muda kini juga ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Banyak dari mereka kemudian bergabung menjadi supporter WWF, yaitu badan pecinta lingkungan. Beberapa hari yang lalu teman-teman dari SMA Bopkri 1 mengirimkan foto-foto melalui email kepada saya. Email itu berisi foto kegiatan mereka dalam membuat banner Earth Hour. Kreatif!

Hal ini patut kita banggakan. Mereka bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman lain untuk ikut bergabung menciptakan kelestarian Bumi, tempat tinggal mereka. Oleh karena itu, mari kita sukseskan program Earth Hour 2010 ini. Agar tercipta Bumi yang sehat dan mensyukuri pemberian Tuhan ini.

Anda dapat melihat artikel saya yang berjudul “Gerakan Earth Hour Demi Lingkungan” di website resmi Earth Hour Indonesia, dan di blog saya ini .
Category: 0 comments

Workshop Jazz dan Bass


Acara ini dilaksanakan pada Jumat, 3 Desember 2009 sebagai dalam rangka menyambut Solo City Jazz 2009. Workshop ini diadakan di Balai Soedjatmoko, Gramedia Solo. Hadir dalam workshop Trio Bassist Akordeon : Bintang Indrianto, Rindra, Roedyanto dan Taufan (drum). Penampilan mereka diawali dengan lagu dengan instrument Bass pastinya lalu coaching clinic oleh mereka. Dalam lagu mereka Roedyanto banyak bermain tehnik slap, Bintang sebagai rhytm dengan menggunakan akor gitar pada gitar bass nya dan Rindra sebagai melodi dengan bass fretless nya.

Banyak pertanyaan dari penonton dan mereka dengan senang hati memberikan ilmunya dan menjawab pertanyaan penonton. Bintang mengatakan bahwa banyak orang bermain bass karena mudah dan hanya “deem…demmm” saja. Tetapi Bintang menegaskan bahwa Bass juga tidak bisa dianggap gampang, karena dia memiliki peran dalam menjaga tempo, irama dan keharmonisan sebuah lagu. Dan lagu-lagu yang halus dan dengan tempo pelan adalah sulit karena pemain harus memiliki kesabaran dan tone yang dihasilkan harus tetap terjaga stabil. Tone menjadi hal yang penting dalam bass.

Saya pun juga ikut bertanya dan jawaban mereka sudah menjawab pertanyaan yang saya maksud. Suatu kepuasan sendiri karena saya dapat berbicara langsung dengan tiga maestro bass. Diakhir acara saya mendapatkan CD album Bintang Indrianto bersama Cort Bass yang meng-endorse nya.

Setelah acara selesai saya tambah bangga kepada mereka karena selain mereka mau memberikan ilmunya, saat saya meminta untuk foto bersama baik Roedyanto, Rindra dan Bintang langsung mengalungkan dan memberikan Bass nya kepada saya agar dapat tampil difoto sehingga memberikan memori kepada saya bahwa bass mereka pernah saya pegang dan rasakan, tidak semua orang dapat merasakannya. Sungguh mereka adalah musisi sejati dan baik hati. Bintang Indrianto juga memberikan nomor telepon agar dapat tetap berkomunikasi dan agar dapat menjawab pertanyaan saya lebih jauh. Workshop ini menjadi pengalaman yang mengesankan bagi saya yang juga sebagai seorang musisi dan bassist.

Terima kasih untuk Trio Bass Akordeon dan Taufan, drummer mereka.
Category: 0 comments

Solo City Jazz - Memasyarakatkan Jazz di Kota Solo

Kota Solo pada tanggal 4-5 Desember kemarin menyelenggarakan ajang Festival Jazz “Solo City Jazz 2009” dengan tema “Jazz Up Batik” di Pasar Malam Windujenar, Solo, Jawa Tengah. Acara ini berusaha memperkenalkan kepada masyarakat bahwa Jazz bukan musik kaum elit tetapi bisa dinikmati oleh siapa saja. SCJ ini gratis, sehingga lebih mudah untuk membawa masyarakat untuk lebih mengenal Jazz. Para pemain tidak hanya tampil di Pasar Windujenar saja, tetapi juga di Pasar Gedhe dimana lebih banyak orang yang masih tradisional belum begitu mengenal Jazz, seperti yang dilakukan band asal Jakarta, Chlorophyl. Chlorophyl bermain diantara para penjual dan yang menarik bahwa tidak ada panggung khusus disana, mereka langsung menempati tempat seadanya seperti pada kursi dan meja pendagang. Sungguh pengenalan Jazz yang menarik. Lalu ada pedagang juga yang bertanya, “Kuwi musik opo to??”(“Itu musik apa ?). Tetapi para pedagang ini juga akhirnya menikmati karena musik Jazz yang dibawakan adalah musik yang easy listening dan mudah dicerna. Begitu juga Yovie Widianto yang tampil di Solo Grand Mall.
Diawali dengan Pre-Event nya pada tanggal 28 November lalu dimana tampil komunitas Jazz Solo yaitu Solo Jazz Society, Gilang Ramadhan Drum School dan Chlorophyl sebagai bintang tamu. Solo Jazz Society sendiri setiap akhir bulan mengadakan aksi panggung disana. Ada juga band yang menarik di komunitas ini, yaitu Swing Doctor dimana personilnya semua adalah para dokter dan calon dokter. Dari Gilang Ramadhan Drum School menampilkan permainan-permainan dari murid-muridnya dengan baik, seperti solo drum oleh anak-anak yang masih TK dan SD. Aksi panggung dari Chlorophyl yang atraktif menggugah penonton ketika mereka bermain lagu dari Jamiroquai.

HARI PERTAMA
Hari pertama, 4 Desember 2009 SCJ dibuka oleh Bapak Walikota Solo, Bapak Joko Widodo dengan memukul Bonang sebagai tanda acara telah dibuka. MC pada hari itu adalah Adia dan Annas.
Performer pertama adalah Notturno, band asal Jakarta yang terdiri dari 3 orang pada Piano, Drum dan Contra Bass. Mereka mengawali pertunjukkan dengan membawakan lagu Nirvana yang akrab ditelinga penonton dengan sentuhan Jazz. Pianis diakhir acara mengiringi solo drum dengan kecrekan milik anaknya, “Tepuk tangan untuk teman-teman saya.. dan saya pada kecrekan.” canda sang pianis.
Penampilan Kedua oleh Wayan Sadra dan Sono-Seni Ensemble yang membawakan lagu-lagu dengan nuansa etnik dari Bali, Jawa dan Sumatera. Mereka juga menggunakan alat-alat tradisional. Perpaduan musik etnik dan jazz yang digarap apik.
Guest Star Dian Permana Putra dan Dedi Dhukun (2D) tampil dengan Harpist Maya Hasan dan Pianis Tiwi Sakuhaci bersama quartetnya pada contra bass dan drum. 2D kembali mengingatkan penonton dengan lagu-lagu hits mereka pada era 80’an. Mereka berdua juga begitu komunikatif dengan penonton dan membuat penonton ikut bernyanyi bersama alunan musik 2D yang indah dan manis. Dedi Dhukuk lalu meminta seorang penonton didepan untuk maju dan mentransfer kepadanya sebagai perantara kepada Bapak Walikota Joko Widodo yang duduk di kursi belakang lesehan, untuk membangun kota Solo. Dedi bersalaman dengan penonton itu dan menyuruhnya menutup mata, lalu dia bertanya,
“Sudah lihat wajah saya?”.
“Sudah”, jawab penonton itu.
“ Berapa angka yang sedang saya pikirkan?”, tanya Dedi.
“Dua!”, jawab pria itu. “Benar!!”
Kemudian mereka membawakan lagu “Melayang” dan “Keraguan”. Dian dan Dedi bersama-sama mengatakan, “2D masih ada di Kota Solo ! Terima kasih Solo!” . Kemudian mereka turun dari panggung.
Setelah itu mereka digantikan oleh Maya Hasan Quartet yang membawakan lagu-lagu daerah dan instrumental. Tiwi Sakuhaci, sang pianis bermain akordion dan menyanyikan lagu daerah Aceh, Bunga Jeumpa. Suara Tiwi begitu dengan dengan campuran vokal etnik. Maya Hasan lalu bernyanyi sebagai persembahan untuk ibundanya. Selain mereka dapat bermain musik mereka juga dapat bernyanyi dengan baik.
Tampil berikutnya, Akordeon dengan 3 orang bassist, yaitu Bintang Indrianto (Bassistnya Tompi), Rindra Risyanto(PADI), Roedyanto (Emerald). Mereka berbeda dengan yang lain, mereka menunjukkan pada penonton bahwa Gitar Bass tidak hanya sebagai intrumen penjaga tempo tetapi dia bisa berperan didepan sebagai lead. Memang, tidak ada gitaris disitu. Menariknya lagi, trio bassist ini membawakan lagu yang berhasil memadukan jazz dengan lokal dengan sentuhan dangdut dan campursari. Sruti Respati sebagai vokalis dan ada juga disana kendang, rebab dan alat tradisional. Pada lagu kedua, Sruti Respati bernyanyi sambil mem-visual-kan sedang dirias diatas panggung. Rindra saat itu mulai menggunakan Bass Fretless nya dan ketiga bassist itu ikut bernyanyi. Sungguh project yang menarik.

HARI KEDUA
Hari kedua, 5 Desember 2009. Penampilan dibuka oleh Solo Jazz Society bersama Temperente Percussion. Kolaborasi yang apik dari salah satu komunitas jazz di Solo ini bersama perkusi yang atraktif. Aksi mereka mendapat tepuk tangan meriah dari penonton yang saat itu sedikit diguyur hujan, tetapi mereka tetap menikmati penampilan mereka.
Heaven on Earth, sebuah band fussion tampil diurutan kedua. Mereka mencampurkan unsur-unsur Blues, Jazz dan Funk dengan beat yang kuat. Franky, bassist dari Heaven on Earth yang juga menjadi instruktur di Institut Musik Indonesia (IMI) lalu bermain solo dengan teknik Slap yang dominant sambil bernyanyi canda. Penonton terhibur dengan candanya dengan tertawa dan tepuk tangan. Franky bermain slap dengan tempo yang cepat dan perkusif membuat penonton bergoyang.
Penampilan ketiga oleh kelompok musik etnik-Jazz, Pribumi. Mereka berasal dari Yogyakarta. Mereka menggunakan gamelan dan kendang sebagai perkusi. Mereka juga menunjukkan solonya dengan menarik dan atraktif.
Lalu Donny Koeswinarno bersama Jazz Quartet nya bermain dengan tempo yang halus. Donny bermain Saxophone dengan nuansa Smooth Jazz dan Blues yang berhasil menenangkan penonton setelah pemain-pemain sebelumnya yang bermain dengan tempo yang kuat.
Chlorophyl, band dari Jakarta yang telah bermain di Pre-Event dan bermain di Pasar Gedhe tampil dengan diawali lagu dari Jamiroquai. Tingkah aktif dari vokalis ini mampu membawa penonton dalam suasana musik yang dibawanya yang dominan dengan electronik. Setelah itu mereka membawakan lagu-lagu mereka yang albumnya akan dirilis. Vokalis lalu menawarkan pemain instrumen mereka untuk bermain instrumentalia. Diawali solo gitar dari gitaris lalu keyboardist dan bassist. Bassist maju kedepan dan bermain solo dan ditutup dengan solo drum.
Lalu guest star Yovie Widianto Fussion hadir. Pria kelahiran Bandung yang sukses dengan Kahitna ini bermain dengan indah dengan nuansa Fussion Jazz yang sempurna. Gerry Herb, Drummer bermain drum dengan pukulan-pukulan yang bersemangat. Penonton lalu bertepuk tangan dan mengambil kameranya untuk foto. Yovie menceritakan kebanggaannya kepada kota Solo yang ternyata begitu mendukung akan terselenggaranya Solo City Jazz dan berharap dapat diselenggarakan lagi tahun depan. Kota Solo banyak menggelar pertunjukan sebagai pintu gerbang Solo yang pada tahun 2010 akan dinobatkan sebagai Kota Pertunjukan.
Category: 0 comments

Performer Solo City Jazz 2009

Berikut adalah mereka yang tampil dalam Solo City Jazz 2009 :

Hari 1

  1. Notturno
  2. Wayan Sadra dan Sono-Seno Ensemble
  3. Dian Permana Putra dan Dedi Dhukun (2D)
  4. Akordeon (Bintang , Rindra, Roedyanto, Sruti Respati, Taufan)
  5. Magnificient Duo Agam Hamzah
  6. Doni Suhendra Project feat Ivan Nestorman
  7. Andien

Hari 2

  1. Solo Jazz Society feat Temperente Percussion
  2. Heaven on Earth
  3. Pribumi
  4. Donny Koeswinarno Jazz Quartet
  5. Yovie Widianto Fussion
  6. Chlorophyl
Category: 0 comments

Gerakan Earth Hour Demi Lingkungan

Apa yang tidak dapat kita syukuri dari Indonesia? Semua yang ada disini harus kita syukuri. Kita bisa mendapatkan berbagai sumber daya alam di bumi pertiwi ini. Seperti flora, fauna, tambang atau hasil bumi dan keindahan alam. Indonesia yang dikenal dunia sebagai negara tropis menjadi tempat yang subur bagi pertanian. Tanaman yang tumbuh didaerah tropis menjadi bahan kebutuhan di negara lain khususnya eropa. Dapat kita ingat saat masih duduk dibangku sekolah bahwa kedatangan bangsa asing ke Indonesia dulu adalah untuk mendapatkan rempah-rempah yang sulit didapat di eropa yang kini menjadi sumber pendapatan negara .

Sayur-sayuran yang ada memberikan nutrisi yang baik bagi anak bangsa begitu juga dengan hewani yang memberikan kebutuhan protein. Hewan-hewan yang ada kebanyakan adalah hewan langka yang menjadi tugas kita untuk menjaganya dari kepunahan. Ada juga keindahan alam yang menjadi sumber daya bangsa kita. Ada berbagai tempat wisata di Indonesia yang kaya akan keindahan alam seperti Pulau Komodo, Bali, Borobudur, Dieng ,Gunung Bromo dan masih banyak lagi dari Sabang sampai Merauke.


BENCANA ADALAH KESALAHAN MANUSIA

Tetapi kita sekarang merasakan ada yang aneh dengan alam saat ini. Banyaknya bencana, kebakaran hutan, cuaca yang tidak menentu membuat manusia kini akan sadar bahwa alam telah memberikan tanda kalau manusia belum bisa menjaganya dengan baik. Beberapa orang masih menebang hutan sembarangan yang hanya mementingkan bisnis tanpa memikirkan kelangsungan hidup di masa yang akan datang, membuang sampah sembarangan sebagai sebab terjadinya banjir karena saluran-saluran yang terhambat, limbah industri yang membahayakan kualitas air dan mahluk hidup didalamnya dan segala perilaku buruk manusia yang tidak memberikan rasa terima kasih kepada alam sebagai titipan Tuhan yang harus kita pelihara.

Muncul isu ditengah masyarakat kini yaitu isu tentang pemanasan global akibat dampak dari emisi gas rumah kaca. Hal itu terjadi akibat banyaknya gas yang tidak bersahabat dan beracun yang ada di atmosfer kita seperti karbon monoksida. Kita telah menggunakan berjuta-juta ton bahan bakar fosil yang ada di Bumi. Kendaraan semakin meningkat begitu juga industri yang akan menambah kadar gas karbon di udara.

Ternyata emisi gas rumah kaca paling banyak berasal dari kebutuhan kita akan listrik karena memberikan 40 persen dari emisi karbon dioksida didunia karena sebagian besar pembangkit listrik dunia menggunakan bahan bakar fosil. Masih sedikit sekali pembangkit listrik alternatif yang menggunakan energi lain seperti tenaga surya, angin, air dan lain-lain. Pengetahuan setiap individu dalam keluarga menjadi sangat penting untuk mengukur seberapa banyak energi yang telah digunakan. Kita tidak perlu sampai mengetahui rumus matematisnya tetapi cukup dengan melakukan penghematan pemakaian listrik dengan mematikan lampu yang tidak digunakan dan memakai lampu yang hemat energi.


PARTISIPASI EARTH HOUR DALAM LINGKUNGAN

WWF tahun lalu mengadakan gerakan Earth Hour yaitu mematikan lampu cukup dengan 60 menit didunia untuk menghemat kebutuhan listrik dan sekaligus untuk mengurangi pembuangan gas pembakaran yang dihasilkannya. Jika dunia semua berpartisipasi akan kita bayangkan dengan waktu 60 menit itu akan ada berapa banyak gas yang dapat kita kurangi. Beberapa program berita, surat kabar, radio dan internet juga berpartisipasi dalam memberikan berita kepada masyarakat akan gerakan Earth Hour ini.

Di kota beberapa gedung juga turut mengikuti program 60 menit ini begitu juga dengan warga yang sadar akan pentingnya kesehatan alam. Di rumah, kami juga melakukan hal yang sama. Kami mematikan lampu dan rumah menjadi gelap. Tetapi kita memanfaatkannya untuk bercerita diluar sambil ngobrol. Ternyata Earth Hour ini juga membuat keluarga menjadi lebih dekat dimana setiap anggota keluarga memiliki kesibukan masing-masing pada hari-hari biasa.

Penting bagi kita untuk melakukan hal ini kapanpun baik dalam Earth Hour 2010 atau dalam penghematan listrik sehari-hari sebagai bukti bahwa kita cinta akan lingkungan dan sebagai wujud syukur kita atas apa yang telah diberikan-Nya.

Category: 0 comments

Indonesian Heroes Day

Today, is the day which always remember from generation to generations. This day remember us to give thanks to all heroes who participated for freedom from colonialists. They fight colonialist with simple weapon bravely such as sharp bamboo . There is some question about victory of our heroes where their enemies used modern weapon. But all question only have one answer. Really? Yes, it a love to fatherland Indonesia. They want to free from colonization
Some of them fight with two kinds of strategies. There are open fight and guerilla. Open fight is applied on forest, hill or field. And guerilla is applied with sneak attack, usually they used knife or small sword. They explored forest and hiding on cave or bunker.

There is a history event which happened on Yamato Hotel, Surabaya, East Java. Many people attacked enemies on the hotel and changed a flag on top. The flag is Netherlands which consist of three colour. They are red, white and blue. Combatants cut blue colour on flag. So, the flag was consist of red and white, Indonesian Flag.

Their effort is success. Colonialists have gone and surrendered after signing agreement and confession Indonesia as freedom country. Government recalling their names with build some monuments, place, building and street name so that the young generation will always remember their effort. On Indonesian Heroes Day many students doing ceremony and peoples using Indonesian heroes’ clothes. There are local clothes, army and clothes which weared by Mr Ir. Soekarno (Indonesian proclamator). And they ride antique bicycle.

(Lakstian)
Category: 0 comments

Mangkunegaran Performing Art

Again, Solo City will hold culture art event, it is “Mangkunegaran Performing Art” which will be your holiday time. This event performing all local culture from Mangkunegaran Palace Solo such as traditional dance and will be held on 4th - 5th of July 2009 start from 7 PM until end. Lets we see this culture event in Mangkunegaran Palace, Solo, Central Java, Indonesia which will incrase our knowledge on this holiday time.

More info click here>>
Category: 0 comments

Mangkunegaran Performing Art

Kembali di kota Solo diselenggarakan apresiasi seni, yaitu “Mangkunegaran Performing Art” yang akan menjadi agenda dalam mengisi liburan anda. Event ini menampilkan kesenian seni yang berasal dari Keraton Mangkunegaran Solo dan dilaksanakan tanggal 4 – 5 Juli 2009 dimulai dari jam 19.00 hingga selesai. Mari kita saksikan acara budaya ini di Keraton Mangkunegaran Solo yang akan menambah pengetahuan kita di masa liburan ini.

Info lebih lanjut klik disini>>

Category: 0 comments

Mengenai Saya

Foto saya
The writer has attention towards Linguistics. It makes him focus on Linguistic research since he was in Bachelor Degree. He is now studying in Master of Linguistics. He is a researcher staff and Literature Division in "Balai Penelitian dan Kajian Sosial". He always watches and participates in many events, then writes them in this blog. He also develops his talent in music with Solo Jazz Society, a Jazz community in Solo, Indonesia. So, enjoy....!! Thanks

Lakstian on Twitter

Follow vilyalakstian on Twitter

Partners

Chat


ShoutMix chat widget

Who's visiting here?

Watch the time...


counter