Sea Quill Blog Contest

Seoconia - Acer Iconia SEO Contest
Internet Sehat

Meningkatkan Kualitas Diri di Semester Akhir


Ketika memasuki semester akhir, tentu perasaan akan lebih lega karena waktu kita akan lebih longgar daripada biasanya. Biasanya sangat sibuk dengan perkuliahan sehari penuh, sekarang punya banyak waktu luang yang bisa dimanfaatkan. Tentu ini sangat bagus, seluruh perkuliahan telah terlampaui dan beberapa saat waktu akan tertuju pada inti dari pengaplikasian ilmu yang telah kita dapat saat perkuliahan. Benar sekali, skripsi namanya.
            Tetap lega rasanya ketika kita sedang melaksanakan skripsi. Dapat dirasakan, dimana semester sebelumnya yang disibukkan dengan penyusunan proposal skripsi saat tugas kuliah menumpuk, seminar proposal dan disetujui. Sambil menyelesaikan tugas akhir ini dan menunggu waktu saatnya dipaparkan didepan penguji sekaligus saat dimana gelar Sarjana diberikan, terdapat waktu yang bisa digunakan dengan maksimal bermanfaat.

Perluas wawasan
            Isi hari-hari dengan membaca, membaca dan terus membaca. Buku adalah teman belajar kita. Daripada menganggur dan mencari kesibukan yang tidak penting, meningkatkan pengetahuan tentu lebih baik. Dunia yang penuh dengan misteri ini memang sangat menarik untuk digali lebih jauh. Bagaimana orang-orang cerdas di luar sana mampu berkontribusi dalam menciptakan peradaban yang maju, peristiwa-peristiwa yang membawa kehidupan masyarakat dalam pengaruhnya hingga saat ini, menciptakan pribadi yang berkualitas dan berinovasi ditengah orang-orang biasa, inilah saatnya untuk mendapatkan informasi tentang itu semua.
            Mampir saja ke perpustakaan kota, jarang-jarang kan bisa mampir kesana? Selain perpustakaan kampus yang mayoritas berfokus pada kajian studi kuliah kita, perpustakaan kota memberikan pengetahuan dengan buku-buku yang lebih umum. Saat ini sudah mulai bermunculan perpustakaan yang disediakan baik oleh pemerintah maupun swasta. Di sekitar solo saja, telah muncul tiga perpustakaan baru untuk umum. Sambil menambah wawasan, tentu bisa memperluas relasi dengan orang-orang baru, bukan?


Bergabung dengan komunitas
            Keahlian yang dimiliki seperti musik, jurnalistik dan olahraga memang perlu saluran. Dengan bergabung dengan komunitas, tentu akan memberikan pengalaman dimana kita dapat menunjukkan kemampuan di depan umum, berinteraksi dan berbagi pengalaman dengan orang-orang yang memiliki kesukaan yang sama. Di masa menunggu seperti saat ini, berpartisipasi dalam komunitas memberikan waktu bagi kita untuk meningkatkan kemampuan. Telah muncul banyak sekali komunitas di setiap kota yang memiliki agenda aktifitas yang berbeda-beda. Agenda untuk mempererat hubungan denga komunitas sejenis di luar kota tentu juga ada. Mendapatkan teman-teman baru, tentu sudah pasti. Semakin kenal dengan banyak orang, semakin banyak kesempatan yang akan didapat.

Belajar hal yang baru
            Di waktu seperti saat ini, akan ada cukup waktu untuk belajar yang baru. Meningkatkan kualitas diri dalam keahlian-keahlian seperti fotografi, melukis, memasak, dan membuat karya tulis tentu sangat bermanfaat. Dengan meningkatkan keahlian baru, diharapkan kita akan menjadi manusia yang bisa dibutuhkan dan diandalkan. Sudah pasti, dengan keahlian ini kita akan lebih memperoleh posisi ditengah masyarakat.

Menambah uang saku
            Yap! Waktu yang luang ini bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan pekerjaan. Ketika sedang tidak diburu waktu yang padat, pasti akan lebih menyenangkan. Berbagai macam pekerjaan dengan sistem part time masih banyak karena memang itu memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk bekerja tanpa mengganggu perkuliahannya. Perlu dipertimbangkan agar tetap menjaga kondisi tubuh dalam melaksanakan part time job, khususnya yang jam kerjanya hingga malam. Disarankan untuk memilih waktu yang fleksibel, sore hari contohnya. Dengan memilih waktu sore hari, pagi bisa digunakan untuk aktifitas lain dan malam tetap cukup istirahat. Bekerja dengan menurut hobi atau ilmu dari kuliah tentu akan lebih mudah dalam melaksanakannya, bahkan kita juga dapat passion-nya. Jika bisa bekerja sesuai yang diingginkan, tentu akan membuat ringan dalam melaksanakannya.

            Semoga beberapa tips diatas mampu membantu teman-teman semester akhir yang sudah memiliki waktu longgar untuk menggunakannya dengan kegiatan-kegiatan yang membangun diri. Bagi yang sedang menunggu wisuda, saya ucapkan selamat mendapatkan gelar kesarjanaannya. Begitu juga dengan yang menunggu waktu ujian skripsi setelah proses bimbingan selesai, semoga semua berjalan lancar.
            Mari berkegiatan!        

Masyarakat Bahasa Indonesia


Bahasa memang sudah menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari manusia. Hal ini terbukti dari begitu pentingnya bahasa dalam penggunaanya oleh manusia selama ini. Diluar sana adalah dunia bahasa dimana kita akan menemukan bahasa baik itu lisan atau tulisan. Bahasa memudahkan dan melancarkan manusia. Bagaimana jika tidak ada bahasa? Sulit bagi kita untuk membayangkannya. Padahal manusia adalah mahluk sosial yang berinteraksi satu sama lain. Begitu juga dari setiap individu manusia itu sendiri yang memiliki beberapa organ yang mampu melakukan aktifitas linguistik baik itu dalam menerima, memproses maupun memproduksi bahasa.
Kridalaksana (1994:21) mengatakan bahwa bahasa sebagai lambang bunyi yang arbitrer dipergunakan oleh masyarakat untuk berhubungan dan bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri. Hal ini memang benar. Kita berada dalam suatu masyarakat bahasa yang saling menggunakan kemampuan berbahasanya satu sama lain. Bahasa sebagai media untuk mentransformasikan, membagi dan menyampaikan berbagai hal seperti ide, gagasan dan informasi. Itulah fungsi dari bahasa. Samsuri (1993:4) berpendapat bahwa manusia tidak lepas memakai bahasa karena bahasa adalah alat yang dipakainya untuk membentuk pikiran, perasaan, keinginan dan perbuatan-perbuatannya serta sebagai alat untuk memengaruhi dan dipengaruhi. Dapat dikatakan bahwa masyarakat bahasa melakukan aksi dan reaksi melalui bahasa. Aktifitas timbal balik ini dapat dilakukan dengan berbagai cara baik itu proses produksi, penerimaan, interpretasi, hingga pemberian tanggapan.

Bahasa dalam kelompok sosial
                Dalam perkembangannya, manusia hidup dalam suatu kelompok sosial yang memberikan ciri yang unik, berbeda dengan kelompok lain. Pembentukan kelompok sosial dipengaruhi berbagai faktor seperti geografis, historis, tradisi maupun ikatan primordialis. Faktor-faktor yang membentuk ciri yang unik dalam setiap kelompok sosial ini ternyata berpengaruh dalam bahasa sehingga membentuk sekumpulan individu dalam kelompok bahasa. Hal ini terbentuk demi terwujudnya pelaksanaan atas fungsi bahasa.
                Penggunaan bahasa khusus dalam suatu kelompok tentu memfasilitasi setiap individu untuk melakukan interaksi satu sama lain. Ini terjadi agar proses komunikasi dapat berjalan lancar dan dapat dipahami. Seperti penggunaan bahasa ibu oleh suatu kelompok di suatu wilayah tertentu. Bahasa sebagai karakteristik akan dikaji lebih dalam pada istilah domain.
                Bell (1976:102) mengatakan bahwa domain terjadi saat bahasa berpengaruh dari situasi dimana peran partisipan terbentuk pada ekspresi perilaku yang sesuai melalui pilihan kode yang sesuai dari repertoir-repertoir linguistik pada individu-individu yang terlibat. Tidak hanya sebatas pada partisipan. Ternyata domain merupakan hubungan dari 3 hal. Yaitu topik, hubungan peran dan tempat (locale), seperti yang dikatakan Fishman (1963). Domain diawali dari keluarga. Domain keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak. Ini didukung dari tempat dimana partisipan berinteraksi. Lalu diperkuat dengan topik-topik yang dibahas dalam interaksi keluarga yang menggunakan bahasa ibu atau bisa disebut bahasa pertama (L1).
Dari domain keluarga, manusia dihadapkan pada kelompok yang lebih luas. Sebagai contoh, saat kita sedang berada di kampung. Secara langsung kita akan memakai bahasa yang lebih mudah diterima di tempat itu, misalnya – bahasa Jawa. Ini terjadi karena kita sedang berada didalam kelompok yang mayoritas menggunakan bahasa itu dalam komunikasi sehari-hari. Tentu fungsi bahasa dapat berjalan baik ketika ada kesepakatan pada kedua pihak baik penutur dan penerimanya. Kesepakatan itu adalah dalam pemilihan bahasa untuk berinteraksi. Bahasa seperti ikut berperan dalam pembentukan “kita” dalam kelompok itu. Keberadaan individu dalam kelompok bahasa ini menjadi penilaian sendiri.

Bahasa Indonesia pada domain yang lebih luas
                Setelah kelompok-kelompok bahasa itu, tentu manusia pun terus berkembang. Perlunya individu untuk berinteraksi yang lebih luas dilatarbelakangi oleh berbagai faktor. Yang pasti adalah manusia berusaha untuk memenuhi kebutuhan. Bahasa  kemudian menjadi alat untuk mendapatkan kebutuhan itu.
                Setiap individu akan menempati pos atau domain-domain yang mereka butuhkan. Ternyata, setiap domain itu bisa bersifat umum. Maksudnya, diikuti oleh pengguna bahasa dari berbagai kelompok bahasa. Domain umum ini seperti pendidikan, ekonomi, pemerintahan dan masih banyak lagi domain-domain yang bersifat umum. Inilah yang dimaksud dengan pemenuhan kebutuhan tadi. Akan ada lebih banyak fungsi bahasa yang berperan karena kompleks nya hal-hal yang akan dibahas di domain-domain tersebut.
                Formal, adalah hal yang unik saat kita memasuki ranah masyarakat bahasa. Individu –individu yang terlibat didalamnya akan dihadapkan pada standarisasi sebagai alat pemersatu. Salah satunya adalah bahasa. Sangat membanggakan bahwa kita memiliki Bahasa Indonesia yang bahkan telah diakui secara internasional. Individu yang berasal dari latar belakang yang berbeda ini akan dipersatukan oleh Bahasa Indonesia. Ini sungguh tampak jelas, meskipun di luar domain itu mereka akan kembali pada bahasa daerahnya (berikutnya kita sebut L1).
                Bahasa Indonesia difungsikan sebagai sarana dalam pelaksanaan fungsi bahasa yang lebih dapat diterima oleh partisipan-partisipan dalam domain umum. Sebagai contoh, dalam domain pendidikan. Berbagai istilah dan wacana yang berkisar dalam domain tersebut lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini terlihat jelas seperti yang tertulis dalam buku diktat, lembar soal dan alat peraganya. Bahasa Indonesia yang bisa dikatakan sebagai bahasa kedua (berikutnya kita sebut L2) menjadi alat dalam penyampaian ide dan informasi pada domain tersebut. Meskipun nantinya guru menyesuaikan pada cara pemahaman siswa dengan menyampaikannya kembali dengan L1, Bahasa Indonesia tetap menjadi standar atau acuan umum. Dari kenyataan ini, dalam domain pendidikan akan ada kemungkinan penggunaan bilingual yaitu L1 dan L2. Pada domain yang lain, religius misalnya. Ulama awalnya akan memberi gambaran atau penjelasan umum, mayoritas menggunakan Bahasa Indonesia (L2) karena tempat ibadah berisi berbagai macam individu yang berbeda dan agama adalah ranah yang sangat umum tanpa membeda-bedakan asal jemaatnya. Dalam penyampaiannya ulama kemudian mengutip beberapa ayat dari kitab suci yang berbahasa yang berbeda lagi, yaitu L3. Ada pula kemungkinan ulama kembali pada L1 untuk mengkhususkan pada jemaat yang tinggal di sekitar tempat ibadah. Meski ada 3 kemungkinan penggunaan bahasa, Bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa pengantar yang lebih mudah diterima dan dapat menjembatani penggunaan bahasa lainnya yaitu L1 dan L3.
                Berbagai domain publik dan sosial yang ada dalam suatu lingkup yang lebih besar yang diikat oleh persatuan dan kesatuan, yaitu negara membuktikan bahwa diperlukan satu bahasa yang diharapkan mampu diketahui warganya. Dan sepertinya ini wajib diketahui karena warga Negara hidup bersama dan tidak mungkin terus berada pada kelompok yang sempit. Meskipun bahasa Indonesia dibeberapa wilayah menjadi L2, tetapi tidak bisa dihindari karena kebutuhan manusia akan informasi dan ide.
                Kejadian semacam ini akan membuat kita berpikir, siapakah diri kita di masyarakat sesungguhnya. Berawal dari kelompok kecil yang sederhana, kemudian masuk kedalam wilayah yang lebih luas. Bahasa Indonesia menunjukkan identitas kita yang sebenarnya. Kita memang hidup diwilayah yang berbeda-beda yang kemudian muncul berbagai variasi bahasa seperti dialek, gaya bahasa dan intonasi sebagai ciri unik dari tempat tinggal kita. Tetapi sesungguhnya kita semua tergabung dalam satu, yaitu Masyarakat Bahasa Indonesia.  
                Bahasa Indonesia memberikan pengaruh pada pembentukan identitas pada setiap individu. Secara struktur batin akan terucap seperti ini: “Saya adalah bagian dari Indonesia maka saya menggunakan Bahasa Indonesia supaya bisa berkomunikasi dengan orang Indonesia lainnya”. Secara tidak langsung terjadi suatu kerjasama. Kerjasama yang tidak selalu identik dalam hal gotong royong, tetapi kerjasama dalam terbentuknya interaksi yang apik dan berkelanjutan. Ketika individu saling bertemu mereka akan mencoba memahami bahasa apa yang bisa saling dipahami. Ada berbagai tahap seperti, penggunaan bahasa daerah. Jika belum bisa berjalan baik maka terjadi code-switching dengan memasukkan bahasa lain. Apabila mampu diterima, kemudian sepenuhnya interaksi menggunakan bahasa tersebut. Sebagai bahasa yang awalnya digunakan untuk menjalankan fungsi instruksional dalam kegiatan akademik, Bahasa Indonesia tentu begitu melekat baik didalam diri masyarakat. Sehingga paling aman jika interaksi menggunakan Indonesia.
Sebagai bagian dari Masyarakat Bahasa Indonesia, saya sungguh bangga karena kita semua baik dari timur dan barat dapat memiliki media komunikasi yang mampu diterima secara umum. Fenomena bahasa ini tentu dapat dimanfaatkan sebagai media nasionalisme sebagai bentuk keistimewaan yang kita miliki bersama.  Pengakuan dunia akan Bahasa Indonesia, bahkan dalam dunia akademis menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia  menjadi bagian dari Dunia Bahasa yang lingkup yang paling besar seperti yang dialami Bahasa Inggris yang telah melintasi antar benua.

Vilya Lakstian
Mahasiswa Linguistik di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta

Lihat juga artikel penulis di Kompasiana

Pementasan Drama Bahasa Inggris di IAIN Surakarta (PRESS RELEASE)


PRESS RELEASE

            Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta kembali menghadirkan pementasan drama berbahasa Inggris. Ini adalah pementasan keenam kalinya diselenggarakan di kampus ini. Pementasan drama berbahasa Inggris ini berjudul “Make Up Make Down & To Sell Celebrities” yang akan dipentaskan di Gedung Pasca Sarjana lantai 4 IAIN Surakarta pada hari Kamis, tanggal 7 Juni 2012 dimulai pukul 19.30 WIB.
            Pementasan drama ini adalah bentuk kreatifitas mahasiswa dari program studi Sastra Inggris semester enam dalam meng-aplikasikan  mata kuliah drama 2 yang telah mereka ambil untuk dipertunjukkan bagi umum. Mereka mengatur semuanya sendiri dari panggung, property, publikasi hingga akting.
            Tema yang mereka ambil kali ini mengangkat fenomena sosial yang terjadi di masyarakat kita. Drama ini menjadi lebih menarik karena mereka dengan kreatif menggabungkan dua judul yang berbeda menjadi satu jalan cerita yang bersambung dan logis. Terdapat dua sutradara pada drama ini untuk mengatur akting dari “Make Up Make Down” dan “To Sell Celebrities”. Dan mereka berhasil untuk menggabungkannya.
            “Make Up Make Down” menceritakan tentang seorang tokoh yang telah menikah – Lucille,  memiliki perhatian yang lebih pada sesuatu yang menjadi hal terpenting bagi kaum hawa yaitu kecantikan. Salah satu yang paling awal terpikirkan adalah cara untuk membuatnya tampil cantik, yaitu dengan make up. Ternyata pada kenyataannya, penggunaan make up tidak membuatnya percaya diri dan puas. Tetapi justru membuatnya semakin kurang dan kehilangan dirinya. Inilah yang membuatnya menjadi tokoh yang kurang bersyukur terhadap apa yang telah dimilikinya. Hal ini menjadi tugas yang berat bagi suaminya – Lloyd, dalam menghadapi sikap istrinya.
            Cerita ini berlanjut ke “To Sell Celebrities” yang mengisahkan dua aktor yang akan tampil. Drama ini juga merupakan kritik sosial yang terjadi saat ini, dimana seorang artis menjadi benda yang dijual dan diperdagangkan. Bukan dari seni yang disuguhkan kepada pemirsanya. Artis menjadi seorang yang selalu diharuskan tampil sempurna, khususnya dalam hal penampilan. Disisi lain, mereka tidak hanya menjual penampilan tetapi juga popularitas. Bukan menjadi hal yang tidak mungkin jika dua aktor sama-sama saling bersaing padahal mereka bisa menjadi partner yang baik untuk menghasilkan karya yang terbaik.

Drama untuk belajar Bahasa Inggris
            Pementasan drama ini diharapkan tidak hanya menjadi sekedar pertunjukan seni saja. Tetapi juga menjadi media pembelajaran dalam berbahasa Inggris. Ada banyak cara digunakan orang-orang untuk belajar bahasa Inggris, salah satunya adalah dalam penampilan drama. Ketika menyaksikan pementasan drama bahasa Inggris, kita tidak hanya mengetahui kosa kata, tetapi juga ekspresi dan praktiknya secara nyata dalam gerakan-gerakannya.

                                                                   Vilya Lakstian C.M
                                                                             Humas

Pelestarian Untuk Kelangsungan Hidup dan Layanan Energi


            Bumi memang menjadi tempat yang cocok untuk kita tinggali. Entah, apa karena Nabi Adam pertama tinggal disini dan kita semua adalah penerus Beliau. Itu bisa saja. Tetapi seiring perkembangan jaman yang diikuti dengan rasa keingintahuan manusia yang besar terhadap apapun yang dihadapinya, lingkungan menjadi objek yang layak untuk diteliti dan dipelajari. Memang bukan sesuatu yang pantas jika kita tidak mengerti akan sekitar. Ini adalah suatu proses bagi manusia sebagai ciptaan Tuhan dan mengakui akan kebesaran-Nya. Sehingga menjadi kewajiban mereka untuk menjaganya seperti apa yang telah difirmankan oleh Tuhan di dalam kitab suci. Ini dari segi agama. Dari segi ilmu pengetahuan, penelitian-penelitian yang telah dilakukan memang membuktikan bahwa hanya Bumi lah tempat yang cocok untuk ditinggali karena memiliki unsur-unsur yang seimbang. Mudah saja seperti Oksigen, Hidrogen dan Karbondioksida yang menjadi unsur penting bagi makhluk hidup. Bukan tidak mungkin unsur ini ada di planet lain, tetapi tetap saja masih ada yang kurang baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.

Inilah Rumah Kita Bersama
            Seperti rumah kita sendiri, lingkungan juga harus kita cintai. Bumi juga sama seperti rumah kita, rumah kita bersama yang tersusun dari bahan penyusunnya yang jika salah satu saja lemah akan menjadi bangunan yang tidak utuh dan lemah. Maka, sudah seharusnya kita melindungi dan menjaga rumah ini, bukan?
Jika membicarakan lingkungan, sebagai bagian dalam Bumi, sudah pasti kita juga akan menyebut sumber daya alam. Karena sumber daya alam adalah unsur penting yang membangun terbentuknya suatu lingkungan.yang harmoni agar proses kehidupan di dalamnya terus berjalan. Berdasarkan proses terbentuknya sumber daya alam di Indonesia dapat dibagi menjadi 3, yaitu astronomis, geologis dan wilayah laut.
Secara astronomis, melihat letak Indonesia sebagai negara kepulauan di garis khatulistiwa, Indonesia merupakan daerah tropik dengan curah hujan tinggi sehingga berbagai jenis tumbuhan tumbuh subur. Air memang menjadi sesuatu yang penting bagi tumbuhan. Ini menjadi kelebihan tersendiri bagi Indonesia yang belum tentu dimiliki negara lain. Negara-negara seperti di benua Afrika sangat sulit untuk memperoleh sumber daya alam ini.  Begitu juga dengan negara didekat wilayah kutub. Jangan kira kalau salju itu dari air, tumbuhan akan subur. Ya memang mungkin disaat musim semi. Tapi itu semua bersifat periodik. Dengan letak indonesia ini, mayoritas wilayahnya tersedia air yang melimpah sepanjang tahun.
Dari sisi Geologis, pertemuan lempeng tektonik dan pegunungan muda juga menjadi salah satu proses terbentuknya sumber daya alam di Indonesia. Dengan adanya faktor ini, tersedia berbagai macam sumber daya mineral di beberapa wilayah Indonesia. Akan ada banyak manfaat darinya yang dapat digunakan diberbagai bidang seperti kesehatan ataupun ekonomi.
Yang berikut ini sudah pasti kita ketahui bersama apalagi sudah diakui dunia. Ya, sebagai negara yang disebut negara kepulauan,  wilayah laut Indonesia menyimpan berbagai sumberdaya alam yaitu nabati, hewani dan mineral. Contohnya, ikan laut, rumput laut, mutiara dan minyak bumi.
Ketiga faktor ini yang membuat lingkungan kita terbentuk. Sebagai seseorang yang tinggal di wilayah tertentu harus mampu mengetahui segala hal tentang lingkungannya, tempat dia tinggal. Inilah rumah kita yang memberikan tempat bagi yang tinggal didalamnya untuk melanjutkan kehidupannya. Dan terus berkembang.

Melihat Sekitar
            Memasuki abad 19, populasi manusia yang tersebar di 5 benua menunjukkan peningkatan yang signifikan. Badan Kependudukan PBB menetapkan bahwa tanggal 12 Oktober 1999 penduduk dunia mencapai 6 miliar jiwa. Bulan Oktober tahun ini diperkirakan akan menjadi 7 miliar jiwa. Pertambahan penduduk yang begitu cepat. Ini saja masih perkiraan, pasti kenyataan akan lebih. Melihat perkembangan teknologi dan medis yang berkembang baik.
            Fenomena ini akan berdampak pada meningkatnya kebutuhan. Apalagi hasil dari Bumi masih menjadi komoditi yang dominan pada kebutuhan manusia. Pengetahuan terhadap ekonomi ternyata justru membawa manusia kepada sikap keserakahan terhadap alam. Menggunakan sumber daya alam yang berlebihan, memanfaatkan situasi demi mendapat keuntungan personal tanpa memperhatikan sekitar dan kelanjutannya. Pemikiran seperti ini yang seharusnya mulai diubah. Semua yang ada di Bumi tidak akan selamanya tersedia utuh. Apapun yang digunakan pasti akan berkurang. Bumi tidak akan mampu jika harus dituntut untuk memenuhi kebutuhan manusia.


Belajar Dari Kearifan Lokal
            Ratusan tahun yang lalu, sebelum manusia familiar dengan teknologi. Mereka benar-benar merasakan bahwa bumi adalah harta mereka. Kehidupan mereka yang tidak bisa lepas dari alam membuat mereka sadar akan pentingnya alam bagi kelangsungan hidup mereka. Yang mereka lakukan adalah menjaga dan melestarikannya. Tidak ada kampanye-kampanye lingkungan seperti baru-baru ini. Kedekatan terhadap alam membuat setiap individu untuk menjaga bagian dari hidupnya.  Yang nenek moyang lakukan sebenarnya hanya sederhana yaitu: menjaga dan melestarikan. Alam mereka pandang sebagai cermin keberlangsungan hidup. Maka, layanan energi dari alam harus terus dilanjutkan. Sebagai tambahan, “layanan energi adalah manfaat yang dihasilkan dari pembawa energi” (Modi dkk,2005). Pembawa energi ini adalah setiap item dari alam.
            Hal diatas adalah bentuk dari kearifan nenek moyang yang cinta lingkungan. Kita bisa menjalani aktifitas saat ini adalah juga sumbangan dari nenek moyang yang memperhatikan kelanjutan hidup generasi berikutnya (life continuity). Mereka menjaga keberlangsungan dari layanan energi. Kearifan lokal yang luhur ini harus diaplikasikan juga dalam berbagai hal, termasuk pada lingkungan. Kearifan lokal yang merupakan hasil warisan turun temurun menunjukkan pada sikap kebersamaan yang sukses diterapkan dalam kehidupan.
            Kearifan lokal yang dilakukan oleh sekelompok orang di suatu wilayah tertentu bisa berdampak pada wilayah lainnya bahkan dunia. Apa yang dilakukan masyarakat Bali bisa dijadikan contoh untuk menggerakkan pelestarian lingkungan. Berawal dari budaya Nyepi, ritual yang hanya dilakukan oleh umat Hindu Bali dan tidak ada di umat Hindu lainnya, masyarakat bali menerapkan “hening” yang merupakan arti dari kata Nyepi untuk memberikan sumbangan bagi Bumi.  Mereka menyebutnya sebagai “Hari Hening Bumi” yang dilakukan pada tanggal 21 Maret dengan cara tidak menggunakan mobil, motor, alat elektronik dan telepon genggam. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 10.00 sampai 14.00. Bumi diberi waktu untuk memulihkan diri terbebas dari aktifitas non-alami manusia yang mayoritas merusak alam. Kegiatan ini ternyata sukses diterapkan dan mendapat apresiasi dari tamu-tamu COP 13, UNFCC – Konferensi Perubahan Iklim. Pengakuan secara internasional pun didapat karena aktifis-aktifis ini berhasil mendapatkan 10.000.000 tanda tangan. Sehingga kagiatan yang akhirnya disebut sebagai “World Silent Day” menjadi hari internasional!

Awali Semua Dari Diri
            Sebetulnya, berpartispasi untuk melestarikan alam bukanlah sesuatu yang merepotkan. Terkadang kita berpikir bahwa untuk mengatasi sesuatu yang besar, seperti Bumi, membutuhan gerakan masyarakat secara bersama-sama. Jika pikiran kita masih dihadapkan pada hal tersebut, kita sama saja melakukan tindakan yang bodoh dan mustahil! Meskipun itu mungkin untuk dilakukan tetapi sungguh sulit dan memakan energi!
            Daripada energi kita habis untuk mengatur orang sedunia. Maka, simpan saja energi yang kita miliki ini untuk pengembangan diri dan menyisihkannya untuk aktifitas kepedulian Bumi secara individu. Ya, kesadaran individu. Ini adalah inti dari pernyataan tersebut. Lakukan saja hal-hal yang mampu kita lakukan secara individu untuk melestarikan lingkungan. Ada banyak cara seperti menanam pepohonan di depan rumah, menanam tanaman didalam pot, membuang sampah pada tempatnya, mendaur ulang sampah rumah tangga menjadi kerajinan dan masih banyak lagi hal-hal kecil yang berguna untuk Bumi. Sudah saatnya kita peduli. Jangan sampai keprihatinan yang dikatakan G.C Lichtenberg ini ada pada kita, bahwa manusia lebih mengutamakan dirinya daripada memperhatikan alam dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
            Jangan anggap remeh setiap usaha individu. Kearifan nenek moyang berawal dari sikap setiap individu. Sikap baik yang kemudian mampu diterima oleh masyarakat dan menjadi karakteristik masyarakat setempat. Buktinya, kearifan lokal ini juga bisa mempengaruhi dunia seperti apa yang lakukan masyarakat Bali tadi.

Hubungan Pelestarian Terhadap Energi yang Berkelanjutan
            Melestarikan alam tidak hanya menjadi sebuah usaha untuk menjaga agar tidak punah ataupun lenyap. Tetapi ini semua kembali pada layanan energi. Tentu setiap materi memiliki energi. Nah, apa yang kita dapat dari energi yang disebut sebagai layanan energi inilah yang menjadi kebutuhan manusia. Dengan melestarikannya, layanan energi ini masih mampu dinikmati oleh generasi berikutnya sekaligus sebagai kelanjutan hidup (life continuity).
Nenek moyang adalah sekelompok orang yang sudah pasti kita akui. Karena mereka, kita bisa melanjutkan hidup dari layanan energi yang telah dijaga dan dilestarikan. Apa yang terjadi jika mereka tidak sanggup menjaga sumber daya alam yang ada? Pasti menjadi sesuatu yang sulit untuk bagi generasi berikutnya untuk hidup. Generasi berikutnya adalah sebuah kewajiban bagi kita. Berdasar juga dari sisi agama bahwa generasi setelah kita adalah penerus, dan bila kita tidak sanggup memelihara dan menjaganya, sama saja itu merupakan sejenis “pembunuhan” yang tentu dilarang dan mendapat dosa dari Tuhan.

Lihat juga : Kompas MuDASobat Bumi



(Vilya Lakstian)

Games Bazar for Learning English

English Letters Students of IAIN Surakarta proudly present Game Bazar @ Fairy Sale Bazar
December 27th - 31st 2011 in Graha IAIN Surakarta at 9 A.M 'till 9 P.M.
Meet the game products and play them all!
Be there ! :D

Mengenai Saya

Foto saya
The writer has attention towards Linguistics. It makes him focus on Linguistic research since he was in Bachelor Degree. He is now studying in Master of Linguistics. He is a researcher staff and Literature Division in "Balai Penelitian dan Kajian Sosial". He always watches and participates in many events, then writes them in this blog. He also develops his talent in music with Solo Jazz Society, a Jazz community in Solo, Indonesia. So, enjoy....!! Thanks

Lakstian on Twitter

Follow vilyalakstian on Twitter

Partners

Chat


ShoutMix chat widget

Who's visiting here?

Watch the time...


counter