Sea Quill Blog Contest

Seoconia - Acer Iconia SEO Contest
Internet Sehat

Javanese Meets French in Kavallerie Artillerie


               What do you think about Java? Batik, Sociability or colonialized people? They must be related to this place. Java is always well-known as one of origin Indonesian cultures. Javanese culture is now more recognized by world. Javanese culture has gotten place as a part of world’s cultural wealth.
            Although Java was colonialized by Dutch for 3,5 centuries and Japanese 3,5 years. There is Mangkunegara Legion (Legiun Mangkunegara) which was developed by Mangkunegara Kingdom in Surakarta city, Central Java, Indonesia. The legion was established by the King Mangkunegara II. Mangkunegara Legion was inspired by Napoleon’s Grande Armee. Napoleon admitted the legion from its tactics and contribution. The legion had supported many battle fields such as Napoleon’s War in Asia as a part of French-Dutch army fought Britain-Sepoy in India (1811), Army operation in East Indies and Pacific War (1942). Napoleon had sent many letters and visitations. One of Napoleon’s gifts can be watched in Radya Pustaka Museum.


Picture 1.1 Mangkunegara Legion

            The French inspirations are proved in the architecture of Kavallerie Artillerie (the legion’s headquarter) and the legion’s divisions. In 1808 when the legion was leaded by Ario Praboe Prang Wedana as the colonel of official duty with Lodewijk Napoleon (Bonaparte’s relative), Mangkunegara Legion had 1.150 troops which were divided into 800 infantries (Fusilier), 100 invaders (Jagers), 200 cavalries and 50 artilleries. 


Picture 1.2 Kavallerie Artillerie Building

            The legion is known as the first army in Indonesia. The costumes were also influenced from French with Javanese symbols. They wore black coat, white trousers and military hat. They combined with blangkon (Javanese hat). 
            Those collaborations between French and Javanese were the efforts which were made by Mangkunegara in order to introduce the kingdom and to appreciate western military development without forgetting Javanese elements as their identity.
            After Japanese involvement in Indonesia, the legion was closed. The legion’s members and their offspring have contributed themselves in Indonesian National Army (Tentara Nasional Indonesia). Kavallerie Artillerie as the historical building owned by Mangkunegara legion still stands in front of Mangkunegara Palace which faces to the palace’s field. 


The photos are taken from Angelina Kusuma's blog and Kompasiana Sejarah
See also: The writer's page on Kompasiana

Mempersiapkan Diri Menuju Gelar Mahasiswa


            Sebentar lagi siswa-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) akan merayakan kelulusannya. Tentu kelulusan dari sekolah ini bukan akhir dari segalanya. Banyak dari mereka memilih untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi, kuliah di universitas. Pendidikan yang lebih tinggi ini memberikan peluang pada mereka untuk fokus pada ilmu yang ingin digali lebih dalam. Dengan tujuan untuk bekal mereka bekerja kelak, terkadang masih saja bingung saat memilih jurusan. Namanya juga anak muda, masih mencari jati diri, tapi ikut-ikutan teman bukan pilihan yang bijaksana. Karena menyangkut masa depan, perlu disikapi dengan hati-hati.
            Sudah bukan saatnya lagi mencari teman seperjuangan di sekolah untuk kuliah bersama. Saat ini adalah saatnya “hidup sendiri-sendiri”. Teman bukan jaminan masa depan yang harusnya ada ditangan kita. Teman juga memiliki impian, begitu juga dengan setiap individu lainnya. Setiap jalan hidup tentu akan berbeda satu dengan yang lain. Memilih jurusan studi merupakan proses kehidupan yang akan kita tulis sendiri. Apalagi anak adalah harapan orang tua.

Berawal dari keluarga
            Untuk mereka yang akan melanjutkan kuliah di universitas, ada baiknya untuk berkonsultasi dengan keluarga. Bagaimanapun orang tua akan mengerti betul kebutuhan dan menjadi gudangnya inspirasi. Mereka telah mengikuti perkembangan puta-putrinya dari lahir hingga dewasa. Konsultasi dengan orang tua tentu sikap yang hormat sebagai anak. Alternatif yang diberikan patut untuk dipertimbangkan. Orang tua adalah manusia yang pernah muda dan anak belum pernah tua,  ini cukup menjadi latar belakang mengapa diskusi dengan keluarga adalah pilihan yang pertama. Utarakan saja semua yang diinginkan kepada mereka. Dengan menunjukkan brosur, leaflet atau infomasi dari universitas yang akan dituju akan memberikan gambaran untuk mendapatkan pilihan. Sebagai pihak yang akan membantu membiayai kebutuhan pendidikan, orang tua juga perlu tahu sehingga dapat merencanakan berapa banyak uang yang mampu dianggarkan. Buatlah kegiatan ini tetap menyenangkan, manfaatkan momen diskusi ini sambil mempererat hubungan antar anggota keluarga.

Semua jurusan adalah baik
            Benar sekali, kalimat diatas perlu untuk dicatat. Semua jurusan di universitas adalah baik. Tidak perlu ragu untuk memilih. Pilih dengan percaya diri dan yakin karena pada dasarnya ilmu pengetahuan itu kebutuhan bagi setiap umat manusia. Tidak sedikit beberapa calon lulusan bingung dengan jurusan-jurusan tertentu atas alasan sulit mencari pekerjaan. Memperoleh pekerjaan bukanlah dilihat dari jurusan, tetapi bagaimana menggunakan ilmu dengan semaksimal mungkin. Jurusan yang tidak ramai malah sebetulnya membuka peluang yang lebih besar. Belum tentu mereka yang mengikuti jurusan favorit akan mudah beradaptasi dengan iklim kompetisi yang kuat. Dengan saingan yang lebih sedikit, tentu juga lebih mudah mendapatkan prestasi akademik. Ketika prestasi akademik mudah diraih, beasiswa akan siap menghampiri. Jadi sebetulnya jurusan di universitas hanya sebagai pengelompokan atas semua ilmu pengetahuan yang ada  dalam peradaban manusia. Sudah kewajiban bagi manusia sebagai mahluk berakal menggunakan rahmat-Nya untuk berfikir, menganalisa, berbagi dan mengatasi masalah dengan ilmu pengetahuan.

Cari ilmunya
            Ketika sedang memilih jurusan, tentu tidak bisa terlepas dari universitas yang menyelenggarakannya. Mendapatkan jurusan di universitas ternama sudah pasti mendapatkan kebahagian tersendiri. Tetapi ada baiknya untuk tidak menggunakan pernyataan tersebut untuk pegangan. Dapat diterima di universitas favorit, itu adalah berkah. Tapi jika sebaliknya terjadi, jangan terlalu disesali. Universitas bagus tidak hanya universitas ternama saja. Apabila jurusan yang dituju juga tersedia di perguruan tinggi lain, tentu boleh dipertimbangkan karena yang dicari adalah ilmunya. Jurusan di universitas ternama dan yang lain memiliki ilmu yang sama, hanya nama saja yang berbeda. Hal itu bukan masalah yang besar, semua sama saja. Sebetulnya malah bisa memperkuat semangat belajar. Jadikan diri sebagai bintang. Menjadi pemenang di tengah pulau tentu lebih mudah daripada di tengah lautan ya luas, bukan? Kenyataan seperti ini juga perlu dipertimbangkan. Perlu direnungi lagi bahwa yang dicari adalah ilmunya. Ilmu yang akan membawa kita pada pencerahan dalam menjalani hidup. Sikapi dengan bijak, hidup bukan mengandalkan gengsi semata tetapi bagaimana meningkatkan kualitas diri dan mampu berkompetisi di tengah kehidupan yang keras ini.
            Selamat berjuang bagi para calon mahasiswa. Selalu semangat dan yakin pada kemampuan diri. 

Meningkatkan Kualitas Diri di Semester Akhir


Ketika memasuki semester akhir, tentu perasaan akan lebih lega karena waktu kita akan lebih longgar daripada biasanya. Biasanya sangat sibuk dengan perkuliahan sehari penuh, sekarang punya banyak waktu luang yang bisa dimanfaatkan. Tentu ini sangat bagus, seluruh perkuliahan telah terlampaui dan beberapa saat waktu akan tertuju pada inti dari pengaplikasian ilmu yang telah kita dapat saat perkuliahan. Benar sekali, skripsi namanya.
            Tetap lega rasanya ketika kita sedang melaksanakan skripsi. Dapat dirasakan, dimana semester sebelumnya yang disibukkan dengan penyusunan proposal skripsi saat tugas kuliah menumpuk, seminar proposal dan disetujui. Sambil menyelesaikan tugas akhir ini dan menunggu waktu saatnya dipaparkan didepan penguji sekaligus saat dimana gelar Sarjana diberikan, terdapat waktu yang bisa digunakan dengan maksimal bermanfaat.

Perluas wawasan
            Isi hari-hari dengan membaca, membaca dan terus membaca. Buku adalah teman belajar kita. Daripada menganggur dan mencari kesibukan yang tidak penting, meningkatkan pengetahuan tentu lebih baik. Dunia yang penuh dengan misteri ini memang sangat menarik untuk digali lebih jauh. Bagaimana orang-orang cerdas di luar sana mampu berkontribusi dalam menciptakan peradaban yang maju, peristiwa-peristiwa yang membawa kehidupan masyarakat dalam pengaruhnya hingga saat ini, menciptakan pribadi yang berkualitas dan berinovasi ditengah orang-orang biasa, inilah saatnya untuk mendapatkan informasi tentang itu semua.
            Mampir saja ke perpustakaan kota, jarang-jarang kan bisa mampir kesana? Selain perpustakaan kampus yang mayoritas berfokus pada kajian studi kuliah kita, perpustakaan kota memberikan pengetahuan dengan buku-buku yang lebih umum. Saat ini sudah mulai bermunculan perpustakaan yang disediakan baik oleh pemerintah maupun swasta. Di sekitar solo saja, telah muncul tiga perpustakaan baru untuk umum. Sambil menambah wawasan, tentu bisa memperluas relasi dengan orang-orang baru, bukan?


Bergabung dengan komunitas
            Keahlian yang dimiliki seperti musik, jurnalistik dan olahraga memang perlu saluran. Dengan bergabung dengan komunitas, tentu akan memberikan pengalaman dimana kita dapat menunjukkan kemampuan di depan umum, berinteraksi dan berbagi pengalaman dengan orang-orang yang memiliki kesukaan yang sama. Di masa menunggu seperti saat ini, berpartisipasi dalam komunitas memberikan waktu bagi kita untuk meningkatkan kemampuan. Telah muncul banyak sekali komunitas di setiap kota yang memiliki agenda aktifitas yang berbeda-beda. Agenda untuk mempererat hubungan denga komunitas sejenis di luar kota tentu juga ada. Mendapatkan teman-teman baru, tentu sudah pasti. Semakin kenal dengan banyak orang, semakin banyak kesempatan yang akan didapat.

Belajar hal yang baru
            Di waktu seperti saat ini, akan ada cukup waktu untuk belajar yang baru. Meningkatkan kualitas diri dalam keahlian-keahlian seperti fotografi, melukis, memasak, dan membuat karya tulis tentu sangat bermanfaat. Dengan meningkatkan keahlian baru, diharapkan kita akan menjadi manusia yang bisa dibutuhkan dan diandalkan. Sudah pasti, dengan keahlian ini kita akan lebih memperoleh posisi ditengah masyarakat.

Menambah uang saku
            Yap! Waktu yang luang ini bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan pekerjaan. Ketika sedang tidak diburu waktu yang padat, pasti akan lebih menyenangkan. Berbagai macam pekerjaan dengan sistem part time masih banyak karena memang itu memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk bekerja tanpa mengganggu perkuliahannya. Perlu dipertimbangkan agar tetap menjaga kondisi tubuh dalam melaksanakan part time job, khususnya yang jam kerjanya hingga malam. Disarankan untuk memilih waktu yang fleksibel, sore hari contohnya. Dengan memilih waktu sore hari, pagi bisa digunakan untuk aktifitas lain dan malam tetap cukup istirahat. Bekerja dengan menurut hobi atau ilmu dari kuliah tentu akan lebih mudah dalam melaksanakannya, bahkan kita juga dapat passion-nya. Jika bisa bekerja sesuai yang diingginkan, tentu akan membuat ringan dalam melaksanakannya.

            Semoga beberapa tips diatas mampu membantu teman-teman semester akhir yang sudah memiliki waktu longgar untuk menggunakannya dengan kegiatan-kegiatan yang membangun diri. Bagi yang sedang menunggu wisuda, saya ucapkan selamat mendapatkan gelar kesarjanaannya. Begitu juga dengan yang menunggu waktu ujian skripsi setelah proses bimbingan selesai, semoga semua berjalan lancar.
            Mari berkegiatan!        

Masyarakat Bahasa Indonesia


Bahasa memang sudah menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari manusia. Hal ini terbukti dari begitu pentingnya bahasa dalam penggunaanya oleh manusia selama ini. Diluar sana adalah dunia bahasa dimana kita akan menemukan bahasa baik itu lisan atau tulisan. Bahasa memudahkan dan melancarkan manusia. Bagaimana jika tidak ada bahasa? Sulit bagi kita untuk membayangkannya. Padahal manusia adalah mahluk sosial yang berinteraksi satu sama lain. Begitu juga dari setiap individu manusia itu sendiri yang memiliki beberapa organ yang mampu melakukan aktifitas linguistik baik itu dalam menerima, memproses maupun memproduksi bahasa.
Kridalaksana (1994:21) mengatakan bahwa bahasa sebagai lambang bunyi yang arbitrer dipergunakan oleh masyarakat untuk berhubungan dan bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri. Hal ini memang benar. Kita berada dalam suatu masyarakat bahasa yang saling menggunakan kemampuan berbahasanya satu sama lain. Bahasa sebagai media untuk mentransformasikan, membagi dan menyampaikan berbagai hal seperti ide, gagasan dan informasi. Itulah fungsi dari bahasa. Samsuri (1993:4) berpendapat bahwa manusia tidak lepas memakai bahasa karena bahasa adalah alat yang dipakainya untuk membentuk pikiran, perasaan, keinginan dan perbuatan-perbuatannya serta sebagai alat untuk memengaruhi dan dipengaruhi. Dapat dikatakan bahwa masyarakat bahasa melakukan aksi dan reaksi melalui bahasa. Aktifitas timbal balik ini dapat dilakukan dengan berbagai cara baik itu proses produksi, penerimaan, interpretasi, hingga pemberian tanggapan.

Bahasa dalam kelompok sosial
                Dalam perkembangannya, manusia hidup dalam suatu kelompok sosial yang memberikan ciri yang unik, berbeda dengan kelompok lain. Pembentukan kelompok sosial dipengaruhi berbagai faktor seperti geografis, historis, tradisi maupun ikatan primordialis. Faktor-faktor yang membentuk ciri yang unik dalam setiap kelompok sosial ini ternyata berpengaruh dalam bahasa sehingga membentuk sekumpulan individu dalam kelompok bahasa. Hal ini terbentuk demi terwujudnya pelaksanaan atas fungsi bahasa.
                Penggunaan bahasa khusus dalam suatu kelompok tentu memfasilitasi setiap individu untuk melakukan interaksi satu sama lain. Ini terjadi agar proses komunikasi dapat berjalan lancar dan dapat dipahami. Seperti penggunaan bahasa ibu oleh suatu kelompok di suatu wilayah tertentu. Bahasa sebagai karakteristik akan dikaji lebih dalam pada istilah domain.
                Bell (1976:102) mengatakan bahwa domain terjadi saat bahasa berpengaruh dari situasi dimana peran partisipan terbentuk pada ekspresi perilaku yang sesuai melalui pilihan kode yang sesuai dari repertoir-repertoir linguistik pada individu-individu yang terlibat. Tidak hanya sebatas pada partisipan. Ternyata domain merupakan hubungan dari 3 hal. Yaitu topik, hubungan peran dan tempat (locale), seperti yang dikatakan Fishman (1963). Domain diawali dari keluarga. Domain keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak. Ini didukung dari tempat dimana partisipan berinteraksi. Lalu diperkuat dengan topik-topik yang dibahas dalam interaksi keluarga yang menggunakan bahasa ibu atau bisa disebut bahasa pertama (L1).
Dari domain keluarga, manusia dihadapkan pada kelompok yang lebih luas. Sebagai contoh, saat kita sedang berada di kampung. Secara langsung kita akan memakai bahasa yang lebih mudah diterima di tempat itu, misalnya – bahasa Jawa. Ini terjadi karena kita sedang berada didalam kelompok yang mayoritas menggunakan bahasa itu dalam komunikasi sehari-hari. Tentu fungsi bahasa dapat berjalan baik ketika ada kesepakatan pada kedua pihak baik penutur dan penerimanya. Kesepakatan itu adalah dalam pemilihan bahasa untuk berinteraksi. Bahasa seperti ikut berperan dalam pembentukan “kita” dalam kelompok itu. Keberadaan individu dalam kelompok bahasa ini menjadi penilaian sendiri.

Bahasa Indonesia pada domain yang lebih luas
                Setelah kelompok-kelompok bahasa itu, tentu manusia pun terus berkembang. Perlunya individu untuk berinteraksi yang lebih luas dilatarbelakangi oleh berbagai faktor. Yang pasti adalah manusia berusaha untuk memenuhi kebutuhan. Bahasa  kemudian menjadi alat untuk mendapatkan kebutuhan itu.
                Setiap individu akan menempati pos atau domain-domain yang mereka butuhkan. Ternyata, setiap domain itu bisa bersifat umum. Maksudnya, diikuti oleh pengguna bahasa dari berbagai kelompok bahasa. Domain umum ini seperti pendidikan, ekonomi, pemerintahan dan masih banyak lagi domain-domain yang bersifat umum. Inilah yang dimaksud dengan pemenuhan kebutuhan tadi. Akan ada lebih banyak fungsi bahasa yang berperan karena kompleks nya hal-hal yang akan dibahas di domain-domain tersebut.
                Formal, adalah hal yang unik saat kita memasuki ranah masyarakat bahasa. Individu –individu yang terlibat didalamnya akan dihadapkan pada standarisasi sebagai alat pemersatu. Salah satunya adalah bahasa. Sangat membanggakan bahwa kita memiliki Bahasa Indonesia yang bahkan telah diakui secara internasional. Individu yang berasal dari latar belakang yang berbeda ini akan dipersatukan oleh Bahasa Indonesia. Ini sungguh tampak jelas, meskipun di luar domain itu mereka akan kembali pada bahasa daerahnya (berikutnya kita sebut L1).
                Bahasa Indonesia difungsikan sebagai sarana dalam pelaksanaan fungsi bahasa yang lebih dapat diterima oleh partisipan-partisipan dalam domain umum. Sebagai contoh, dalam domain pendidikan. Berbagai istilah dan wacana yang berkisar dalam domain tersebut lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini terlihat jelas seperti yang tertulis dalam buku diktat, lembar soal dan alat peraganya. Bahasa Indonesia yang bisa dikatakan sebagai bahasa kedua (berikutnya kita sebut L2) menjadi alat dalam penyampaian ide dan informasi pada domain tersebut. Meskipun nantinya guru menyesuaikan pada cara pemahaman siswa dengan menyampaikannya kembali dengan L1, Bahasa Indonesia tetap menjadi standar atau acuan umum. Dari kenyataan ini, dalam domain pendidikan akan ada kemungkinan penggunaan bilingual yaitu L1 dan L2. Pada domain yang lain, religius misalnya. Ulama awalnya akan memberi gambaran atau penjelasan umum, mayoritas menggunakan Bahasa Indonesia (L2) karena tempat ibadah berisi berbagai macam individu yang berbeda dan agama adalah ranah yang sangat umum tanpa membeda-bedakan asal jemaatnya. Dalam penyampaiannya ulama kemudian mengutip beberapa ayat dari kitab suci yang berbahasa yang berbeda lagi, yaitu L3. Ada pula kemungkinan ulama kembali pada L1 untuk mengkhususkan pada jemaat yang tinggal di sekitar tempat ibadah. Meski ada 3 kemungkinan penggunaan bahasa, Bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa pengantar yang lebih mudah diterima dan dapat menjembatani penggunaan bahasa lainnya yaitu L1 dan L3.
                Berbagai domain publik dan sosial yang ada dalam suatu lingkup yang lebih besar yang diikat oleh persatuan dan kesatuan, yaitu negara membuktikan bahwa diperlukan satu bahasa yang diharapkan mampu diketahui warganya. Dan sepertinya ini wajib diketahui karena warga Negara hidup bersama dan tidak mungkin terus berada pada kelompok yang sempit. Meskipun bahasa Indonesia dibeberapa wilayah menjadi L2, tetapi tidak bisa dihindari karena kebutuhan manusia akan informasi dan ide.
                Kejadian semacam ini akan membuat kita berpikir, siapakah diri kita di masyarakat sesungguhnya. Berawal dari kelompok kecil yang sederhana, kemudian masuk kedalam wilayah yang lebih luas. Bahasa Indonesia menunjukkan identitas kita yang sebenarnya. Kita memang hidup diwilayah yang berbeda-beda yang kemudian muncul berbagai variasi bahasa seperti dialek, gaya bahasa dan intonasi sebagai ciri unik dari tempat tinggal kita. Tetapi sesungguhnya kita semua tergabung dalam satu, yaitu Masyarakat Bahasa Indonesia.  
                Bahasa Indonesia memberikan pengaruh pada pembentukan identitas pada setiap individu. Secara struktur batin akan terucap seperti ini: “Saya adalah bagian dari Indonesia maka saya menggunakan Bahasa Indonesia supaya bisa berkomunikasi dengan orang Indonesia lainnya”. Secara tidak langsung terjadi suatu kerjasama. Kerjasama yang tidak selalu identik dalam hal gotong royong, tetapi kerjasama dalam terbentuknya interaksi yang apik dan berkelanjutan. Ketika individu saling bertemu mereka akan mencoba memahami bahasa apa yang bisa saling dipahami. Ada berbagai tahap seperti, penggunaan bahasa daerah. Jika belum bisa berjalan baik maka terjadi code-switching dengan memasukkan bahasa lain. Apabila mampu diterima, kemudian sepenuhnya interaksi menggunakan bahasa tersebut. Sebagai bahasa yang awalnya digunakan untuk menjalankan fungsi instruksional dalam kegiatan akademik, Bahasa Indonesia tentu begitu melekat baik didalam diri masyarakat. Sehingga paling aman jika interaksi menggunakan Indonesia.
Sebagai bagian dari Masyarakat Bahasa Indonesia, saya sungguh bangga karena kita semua baik dari timur dan barat dapat memiliki media komunikasi yang mampu diterima secara umum. Fenomena bahasa ini tentu dapat dimanfaatkan sebagai media nasionalisme sebagai bentuk keistimewaan yang kita miliki bersama.  Pengakuan dunia akan Bahasa Indonesia, bahkan dalam dunia akademis menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia  menjadi bagian dari Dunia Bahasa yang lingkup yang paling besar seperti yang dialami Bahasa Inggris yang telah melintasi antar benua.

Vilya Lakstian
Mahasiswa Linguistik di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta

Lihat juga artikel penulis di Kompasiana

Pementasan Drama Bahasa Inggris di IAIN Surakarta (PRESS RELEASE)


PRESS RELEASE

            Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta kembali menghadirkan pementasan drama berbahasa Inggris. Ini adalah pementasan keenam kalinya diselenggarakan di kampus ini. Pementasan drama berbahasa Inggris ini berjudul “Make Up Make Down & To Sell Celebrities” yang akan dipentaskan di Gedung Pasca Sarjana lantai 4 IAIN Surakarta pada hari Kamis, tanggal 7 Juni 2012 dimulai pukul 19.30 WIB.
            Pementasan drama ini adalah bentuk kreatifitas mahasiswa dari program studi Sastra Inggris semester enam dalam meng-aplikasikan  mata kuliah drama 2 yang telah mereka ambil untuk dipertunjukkan bagi umum. Mereka mengatur semuanya sendiri dari panggung, property, publikasi hingga akting.
            Tema yang mereka ambil kali ini mengangkat fenomena sosial yang terjadi di masyarakat kita. Drama ini menjadi lebih menarik karena mereka dengan kreatif menggabungkan dua judul yang berbeda menjadi satu jalan cerita yang bersambung dan logis. Terdapat dua sutradara pada drama ini untuk mengatur akting dari “Make Up Make Down” dan “To Sell Celebrities”. Dan mereka berhasil untuk menggabungkannya.
            “Make Up Make Down” menceritakan tentang seorang tokoh yang telah menikah – Lucille,  memiliki perhatian yang lebih pada sesuatu yang menjadi hal terpenting bagi kaum hawa yaitu kecantikan. Salah satu yang paling awal terpikirkan adalah cara untuk membuatnya tampil cantik, yaitu dengan make up. Ternyata pada kenyataannya, penggunaan make up tidak membuatnya percaya diri dan puas. Tetapi justru membuatnya semakin kurang dan kehilangan dirinya. Inilah yang membuatnya menjadi tokoh yang kurang bersyukur terhadap apa yang telah dimilikinya. Hal ini menjadi tugas yang berat bagi suaminya – Lloyd, dalam menghadapi sikap istrinya.
            Cerita ini berlanjut ke “To Sell Celebrities” yang mengisahkan dua aktor yang akan tampil. Drama ini juga merupakan kritik sosial yang terjadi saat ini, dimana seorang artis menjadi benda yang dijual dan diperdagangkan. Bukan dari seni yang disuguhkan kepada pemirsanya. Artis menjadi seorang yang selalu diharuskan tampil sempurna, khususnya dalam hal penampilan. Disisi lain, mereka tidak hanya menjual penampilan tetapi juga popularitas. Bukan menjadi hal yang tidak mungkin jika dua aktor sama-sama saling bersaing padahal mereka bisa menjadi partner yang baik untuk menghasilkan karya yang terbaik.

Drama untuk belajar Bahasa Inggris
            Pementasan drama ini diharapkan tidak hanya menjadi sekedar pertunjukan seni saja. Tetapi juga menjadi media pembelajaran dalam berbahasa Inggris. Ada banyak cara digunakan orang-orang untuk belajar bahasa Inggris, salah satunya adalah dalam penampilan drama. Ketika menyaksikan pementasan drama bahasa Inggris, kita tidak hanya mengetahui kosa kata, tetapi juga ekspresi dan praktiknya secara nyata dalam gerakan-gerakannya.

                                                                   Vilya Lakstian C.M
                                                                             Humas

Mengenai Saya

Foto saya
The writer has attention towards Linguistics. It makes him focus on Linguistic research since he was in Bachelor Degree. He is now studying in Master of Linguistics. He is a researcher staff and Literature Division in "Balai Penelitian dan Kajian Sosial". He always watches and participates in many events, then writes them in this blog. He also develops his talent in music with Solo Jazz Society, a Jazz community in Solo, Indonesia. So, enjoy....!! Thanks

Lakstian on Twitter

Follow vilyalakstian on Twitter

Partners

Chat


ShoutMix chat widget

Who's visiting here?

Watch the time...


counter