Sea Quill Blog Contest

Solo City Jazz - Memasyarakatkan Jazz di Kota Solo

Kota Solo pada tanggal 4-5 Desember kemarin menyelenggarakan ajang Festival Jazz “Solo City Jazz 2009” dengan tema “Jazz Up Batik” di Pasar Malam Windujenar, Solo, Jawa Tengah. Acara ini berusaha memperkenalkan kepada masyarakat bahwa Jazz bukan musik kaum elit tetapi bisa dinikmati oleh siapa saja. SCJ ini gratis, sehingga lebih mudah untuk membawa masyarakat untuk lebih mengenal Jazz. Para pemain tidak hanya tampil di Pasar Windujenar saja, tetapi juga di Pasar Gedhe dimana lebih banyak orang yang masih tradisional belum begitu mengenal Jazz, seperti yang dilakukan band asal Jakarta, Chlorophyl. Chlorophyl bermain diantara para penjual dan yang menarik bahwa tidak ada panggung khusus disana, mereka langsung menempati tempat seadanya seperti pada kursi dan meja pendagang. Sungguh pengenalan Jazz yang menarik. Lalu ada pedagang juga yang bertanya, “Kuwi musik opo to??”(“Itu musik apa ?). Tetapi para pedagang ini juga akhirnya menikmati karena musik Jazz yang dibawakan adalah musik yang easy listening dan mudah dicerna. Begitu juga Yovie Widianto yang tampil di Solo Grand Mall.
Diawali dengan Pre-Event nya pada tanggal 28 November lalu dimana tampil komunitas Jazz Solo yaitu Solo Jazz Society, Gilang Ramadhan Drum School dan Chlorophyl sebagai bintang tamu. Solo Jazz Society sendiri setiap akhir bulan mengadakan aksi panggung disana. Ada juga band yang menarik di komunitas ini, yaitu Swing Doctor dimana personilnya semua adalah para dokter dan calon dokter. Dari Gilang Ramadhan Drum School menampilkan permainan-permainan dari murid-muridnya dengan baik, seperti solo drum oleh anak-anak yang masih TK dan SD. Aksi panggung dari Chlorophyl yang atraktif menggugah penonton ketika mereka bermain lagu dari Jamiroquai.

HARI PERTAMA
Hari pertama, 4 Desember 2009 SCJ dibuka oleh Bapak Walikota Solo, Bapak Joko Widodo dengan memukul Bonang sebagai tanda acara telah dibuka. MC pada hari itu adalah Adia dan Annas.
Performer pertama adalah Notturno, band asal Jakarta yang terdiri dari 3 orang pada Piano, Drum dan Contra Bass. Mereka mengawali pertunjukkan dengan membawakan lagu Nirvana yang akrab ditelinga penonton dengan sentuhan Jazz. Pianis diakhir acara mengiringi solo drum dengan kecrekan milik anaknya, “Tepuk tangan untuk teman-teman saya.. dan saya pada kecrekan.” canda sang pianis.
Penampilan Kedua oleh Wayan Sadra dan Sono-Seni Ensemble yang membawakan lagu-lagu dengan nuansa etnik dari Bali, Jawa dan Sumatera. Mereka juga menggunakan alat-alat tradisional. Perpaduan musik etnik dan jazz yang digarap apik.
Guest Star Dian Permana Putra dan Dedi Dhukun (2D) tampil dengan Harpist Maya Hasan dan Pianis Tiwi Sakuhaci bersama quartetnya pada contra bass dan drum. 2D kembali mengingatkan penonton dengan lagu-lagu hits mereka pada era 80’an. Mereka berdua juga begitu komunikatif dengan penonton dan membuat penonton ikut bernyanyi bersama alunan musik 2D yang indah dan manis. Dedi Dhukuk lalu meminta seorang penonton didepan untuk maju dan mentransfer kepadanya sebagai perantara kepada Bapak Walikota Joko Widodo yang duduk di kursi belakang lesehan, untuk membangun kota Solo. Dedi bersalaman dengan penonton itu dan menyuruhnya menutup mata, lalu dia bertanya,
“Sudah lihat wajah saya?”.
“Sudah”, jawab penonton itu.
“ Berapa angka yang sedang saya pikirkan?”, tanya Dedi.
“Dua!”, jawab pria itu. “Benar!!”
Kemudian mereka membawakan lagu “Melayang” dan “Keraguan”. Dian dan Dedi bersama-sama mengatakan, “2D masih ada di Kota Solo ! Terima kasih Solo!” . Kemudian mereka turun dari panggung.
Setelah itu mereka digantikan oleh Maya Hasan Quartet yang membawakan lagu-lagu daerah dan instrumental. Tiwi Sakuhaci, sang pianis bermain akordion dan menyanyikan lagu daerah Aceh, Bunga Jeumpa. Suara Tiwi begitu dengan dengan campuran vokal etnik. Maya Hasan lalu bernyanyi sebagai persembahan untuk ibundanya. Selain mereka dapat bermain musik mereka juga dapat bernyanyi dengan baik.
Tampil berikutnya, Akordeon dengan 3 orang bassist, yaitu Bintang Indrianto (Bassistnya Tompi), Rindra Risyanto(PADI), Roedyanto (Emerald). Mereka berbeda dengan yang lain, mereka menunjukkan pada penonton bahwa Gitar Bass tidak hanya sebagai intrumen penjaga tempo tetapi dia bisa berperan didepan sebagai lead. Memang, tidak ada gitaris disitu. Menariknya lagi, trio bassist ini membawakan lagu yang berhasil memadukan jazz dengan lokal dengan sentuhan dangdut dan campursari. Sruti Respati sebagai vokalis dan ada juga disana kendang, rebab dan alat tradisional. Pada lagu kedua, Sruti Respati bernyanyi sambil mem-visual-kan sedang dirias diatas panggung. Rindra saat itu mulai menggunakan Bass Fretless nya dan ketiga bassist itu ikut bernyanyi. Sungguh project yang menarik.

HARI KEDUA
Hari kedua, 5 Desember 2009. Penampilan dibuka oleh Solo Jazz Society bersama Temperente Percussion. Kolaborasi yang apik dari salah satu komunitas jazz di Solo ini bersama perkusi yang atraktif. Aksi mereka mendapat tepuk tangan meriah dari penonton yang saat itu sedikit diguyur hujan, tetapi mereka tetap menikmati penampilan mereka.
Heaven on Earth, sebuah band fussion tampil diurutan kedua. Mereka mencampurkan unsur-unsur Blues, Jazz dan Funk dengan beat yang kuat. Franky, bassist dari Heaven on Earth yang juga menjadi instruktur di Institut Musik Indonesia (IMI) lalu bermain solo dengan teknik Slap yang dominant sambil bernyanyi canda. Penonton terhibur dengan candanya dengan tertawa dan tepuk tangan. Franky bermain slap dengan tempo yang cepat dan perkusif membuat penonton bergoyang.
Penampilan ketiga oleh kelompok musik etnik-Jazz, Pribumi. Mereka berasal dari Yogyakarta. Mereka menggunakan gamelan dan kendang sebagai perkusi. Mereka juga menunjukkan solonya dengan menarik dan atraktif.
Lalu Donny Koeswinarno bersama Jazz Quartet nya bermain dengan tempo yang halus. Donny bermain Saxophone dengan nuansa Smooth Jazz dan Blues yang berhasil menenangkan penonton setelah pemain-pemain sebelumnya yang bermain dengan tempo yang kuat.
Chlorophyl, band dari Jakarta yang telah bermain di Pre-Event dan bermain di Pasar Gedhe tampil dengan diawali lagu dari Jamiroquai. Tingkah aktif dari vokalis ini mampu membawa penonton dalam suasana musik yang dibawanya yang dominan dengan electronik. Setelah itu mereka membawakan lagu-lagu mereka yang albumnya akan dirilis. Vokalis lalu menawarkan pemain instrumen mereka untuk bermain instrumentalia. Diawali solo gitar dari gitaris lalu keyboardist dan bassist. Bassist maju kedepan dan bermain solo dan ditutup dengan solo drum.
Lalu guest star Yovie Widianto Fussion hadir. Pria kelahiran Bandung yang sukses dengan Kahitna ini bermain dengan indah dengan nuansa Fussion Jazz yang sempurna. Gerry Herb, Drummer bermain drum dengan pukulan-pukulan yang bersemangat. Penonton lalu bertepuk tangan dan mengambil kameranya untuk foto. Yovie menceritakan kebanggaannya kepada kota Solo yang ternyata begitu mendukung akan terselenggaranya Solo City Jazz dan berharap dapat diselenggarakan lagi tahun depan. Kota Solo banyak menggelar pertunjukan sebagai pintu gerbang Solo yang pada tahun 2010 akan dinobatkan sebagai Kota Pertunjukan.
Category: 0 comments

0 comments:

Mengenai Saya

Foto saya
The writer has attention towards Linguistics. It makes him focus on Linguistic research since he was in Bachelor Degree. He is now studying in Master of Linguistics. He is a researcher staff and Literature Division in "Balai Penelitian dan Kajian Sosial". He always watches and participates in many events, then writes them in this blog. He also develops his talent in music with Solo Jazz Society, a Jazz community in Solo, Indonesia. So, enjoy....!! Thanks

Lakstian on Twitter

Follow vilyalakstian on Twitter

Partners

Chat


ShoutMix chat widget

Who's visiting here?

Watch the time...


counter