Sea Quill Blog Contest

Berpetualang Sejarah Penyiaran Indonesia


Dengan diperingatinya Hari Penyiaran, Monumen Pers mengadakan Pameran Penyiaran pada tanggal 31 Maret-9 April 2010. Monumen Pers yang terletak di Jalan Gajah Mada 59 Surakarta ini sekarang menjadi Monumen Pers Nasional. Awalnya gedung ini bernama Gedung Societeit Sasono Suko, di gedung ini Ir Sarsito Mangunkusumo mendirikan Solosche Radio Vereeniging (SRV) yaitu radio pribumi pertama. Gedung ini juga dijadikan sebagai tempat berlangsungnya Konggres Wartawan Indonesia pada 9 Februari 1946.
Saat memasuki pameran, kita akan menyaksikan berbagai dokumen terbit media. Tidak hanya artikel tetapi ada gambar nya juga. Ini adalah hal yang menarik. Selain melihat, kita juga dapat membaca dimana didalam artikel wartawan tersebut mampu menuliskan tulisan-tulisan yang menarik. Tentu ini akan memberikan kelebihan terhadap pendidikan masyarakat sambil berpetualang mengarungi sejarah bangsa. Setelah mengisi kehadiran, didepan ada sebuah Pemancar “Radio Kambing” (lihat gambar disamping). Hal inilah juga yang membuat saya merasa wajib untuk datang ke pameran setelah membaca sebuah koran yang menuliskan sedikit review pameran ini. Ternyata, mengapa disebut Pemancar “Radio Kambing”? Karena pemancar radio ini pernah disimpan pejuang RRI dan TNI di kandang kambing untuk mengelabui tentara Belanda saat terjadi Clash II tahun 1948-1949 di Desa Balong, Lereng Gunung Lawu karena RRI Surakarta diserang Belanda. Pemancar ini juga dipakai oleh SRV untuk menyiarkan langsung musik gamelan Solo-Belanda, mengiringi Gusti Nurul (Putri Sri Mangkunegoro VII) membawakan tari Bedhaya Srimpi di Istana Kerajaan Belanda, Den Haag tanggal 7 Januari 1937.

Radio dan Studio
Ruangan yang luas dan penerangan yang baik memberikan nuansa museum yang apik. Kursi ditengah-tengah ruangan dapat dimanfaatkan pengunjung untuk beristirahat sejenak sambil membaca leaflet museum. Lalu ada sebuah foto Adolf Hitler saat berpidato pertama kali didepan sebuah mikrofon pada tahun 1933. Seseorang yang kemudian akan mengubah negerinya.
Kemudian artikel dan foto Bintang Radio. Di masa saat radio menjadi salah satu media hiburan, kemudian diadakan kompetisi Bintang Radio yang diikuti para pemuda dan pemudi. Seperti Abang-None, sebagai generasi bangsa yang akan meneruskan perjuangan, mereka juga memberikan ide-ide untuk kemajuan bangsa dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang ada didalam masyarakat.
Terdapat artikel-artikel yang menunjukkan kemajuan Indonesia dibidang penyiaran seperti dalam artikel “Indonesia Bikin Piring Hitam” yaitu media penyimpanan yang seperti Compact Disc (CD) dan “Radio Pantji (Radio Panci) yang bentuknya bulat seperti panci .
Diujung terdapat studio mini RRI, dimana mereka juga melakukan siaran langsung dari studio disitu. Begitu juga, disampingnya terdapat berbagai radio antik dari yang bentuknya besar-besar hampir seukuran lemari dan radio kotak-kotak yang dipakai para tentara saat terjadinya perang dunia kedua ( PD II ). Ditampilkan sebuah kompas antik yang digunakan seorang jendral yang bentuknya hampir seperti radio disekitarnya. Studio dan radio antik ini menambah kesan dan nuansa pameran penyiaran. Memberikan gambaran kepada pengunjung tentang kegiatan penyiaran di studio dan radio sebagai output dari hasil siaran di studio.

Musik bagian dari penyiaran
Museum musik Kamsidi menampilkan beberapa alat musik antik, artikel dan foto-foto musisi senior. Musik memang menjadi bagian dalam penyiaran karena output nya mampu didengar, dapat disiarkan dan diterima oleh seluruh penikmat media penyiaran. Beberapa alat musik seperti flute and saxophone dipajang bersama foto-foto seorang musisi Solo bersama band nya yang bernama Cauman Band, menunjuk pada suatu daerah di Solo, Kauman. Band ini mungkin hampir menuju bigband atau orkes karena pemainnya yang jumlahnya banyak. Disebelahnya terdapat 3 musisi yang salah satunya adalah orang belanda yang ikut mengaransemen lagu Indonesia Raya. Sangat mengharukan dan bahagianya saya, sebagai seorang musisi, melihat para pendahulu dan senior dimana saat itu adalah masa yang sulit karena masih dalam keadaan terjajah, selain berpolitik mereka juga mampu mengembangkan dan mengapresiasikan kesenian seperti musik.
Diakhir perjalanan, 5 orang penting dari Solosche Radio Vereeniging (SRV) menutup perjalanan saya. Salah satunya adalah Mangkunegoro VII yang dijuluki juga sebagai Bapak Penyiaran Indonesia, dengan biografi beliau dan 4 orang penting SRV lainnya.
Pameran pers ini banyak memberikan ilmu kepada saya tentang penyiaran di Indonesia, bagaimana mereka berjuang dengan penyiaran dan radio yang saat itu menjadi gaya hidup masyarakat.

( Lakstian )
Category: 2 comments

2 comments:

teamronggolawe mengatakan...

Berkunjung menjalin relasi dan mencari ilmu yang bermanfaat. Sukses yach ^_^ Salam dari teamronggolawe.com

teamronggolawe mengatakan...

Berkunjung menjalin relasi dan mencari ilmu yang bermanfaat. Sukses yach ^_^ Salam dari teamronggolawe.com

Mengenai Saya

Foto saya
The writer has attention towards Linguistics. It makes him focus on Linguistic research since he was in Bachelor Degree. He is now studying in Master of Linguistics. He is a researcher staff and Literature Division in "Balai Penelitian dan Kajian Sosial". He always watches and participates in many events, then writes them in this blog. He also develops his talent in music with Solo Jazz Society, a Jazz community in Solo, Indonesia. So, enjoy....!! Thanks

Lakstian on Twitter

Follow vilyalakstian on Twitter

Partners

Chat


ShoutMix chat widget

Who's visiting here?

Watch the time...


counter